Entah apa ini yang namanya era kebebasan dan keterbukaan informasi atau apalah. Ditambah dengan dukungan teknologi yang semakin canggih, berita apapun bisa disebarluaskan dengan cepat, entah itu fakta, hanya sebuah opini, atau bahkan berita bohong (hoax). Makin susah menyaring informasi yang tidak kita perlukan.
Punya akun twitter, mem-follow sebuah akun, ternyata lama kelamaan tweet-nya bukannya bermanfaat, malah terasa mengganggu, akhirnya memutuskan untuk unfollow, lalu punya akun facebook pun demikian, friend terlalu banci update status, akhirnya dipilih jalan unfriend lah. Ndak cuma sampai disitu, pake BB, gabung di sebuah grup yang isinya kurang lebih juga banyak berita hoax, atau cuma hasil copy-paste, broadcasting sana-sini, nyampah. Udah nyampah minta supaya disebarluaskan pula, dooohhh…… Akhirnya memilih untuk keluar dari grup. Sampai disini berasa aman dari serbuan berita-berita yang tidak ingin kita ketahui. Eh ternyata, di kehidupan dunia nyata pun masih berlanjut, masih ada orang-orang yang membawa berita-berita ndak jelas itu dalam obrolan sehari-hari, prinsipnya yang penting biar tampak paling update deh, terserah itu bener atau hoax semata, sementara kalau ditanya lebih rinci, dia sendiri juga tidak tahu apa maksudnya. Masak kita harus tinggal di hutan untuk menghindari semua itu ? Jadi tarzan donk.
Saya ingat sebuah petuah, tapi saya lupa dulu membacanya dari mana, isinya kurang lebih seperti ini :
Ketahuilah apa yang kamu bicarakan, tapi tak perlu kamu bicarakan apa-apa yang kamu ketahui.
Teliti dahulu sebelum menyebarkan informasi, betul atau tidak, perlu diketahui orang banyak atau tidak. Percayalah, tidak semua orang butuh atau mau tahu tentang semua hal yang kita ketahui. Tidak semua orang kepo.
Masih ada yang tanya kepo apaan sih ? Kepo itu kepanjangannya kepongon tauuuuuu….ajah. Kalau menurut Kitab Gaul ini arti dari kepo (klik sendiri aja deh).

