Sekarang ini biaya pendidikan di perguruan tinggi makin mahal saja. Makanya sekolah-sekolah kedinasan yang notabene tidak memungut biaya kepada mahasiswa selama mengikuti pendidikan alias gratis jadi banyak diincar oleh anak-anak lulusan SMU.
Salah satunya adalah Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Pendaftaran untuk ujian saringan masuk STAN telah dibuka sejak tanggal 10 – 29 Juni 2009. Dan pendaftaran ini hanya dilakukan secara elektronik (e-registrasi) melalui alamat www.usm.stan.ac.id. Hinggal menjelang akhir masa pendaftaran, sebetulnya masih banyak anak-anak lulusan SMU yang belum menerima ijasah atau mengetahui nilai mereka dimana nilai itu juga jadi patokan untuk peserta, boleh ikut mendaftar atau tidak. Dan ternyata kemudian ada pengumuman bahwa pendaftaran diperpanjang hingga tanggal 7 Juli 2009. Mendaftar melalui internet ini sulit sekali. Kenapa? Karena setiap mengakses alamat website yang telah ditentukan itu selalu muncul pesan error : The Page Cannot Be Displayed. Bisa masuk ke halaman muka saja sudah beruntung. Saya tidak tahu pasti apa penyebabnya, kemungkinan karena terlalu banyaknya yang mengakses situs pendafataran online ini.
Yang awalnya bertujuan memudahkan, ini malah menjadi sebaliknya, para calon pendaftar jadi kesulitan mendaftarkan diri secara online. Saya pikir alangkah baiknya apabila disediakan juga loket pendaftaran secara manual di lokasi-lokasi yang telah ditentukan. Selain karena webnya sulit diakses, kita juga mestinya sadar, internet belumnya bisa dinikmati dengan mudah oleh semua orang, bahkan masih banyak yang belum tahu bagaimana cara berinternet atau internet itu apaan.
Sampai saat ini, saya masih belum bisa membuka www.usm.stan.ac.id. Untungnya tadi saya mebaca status gtalk-nya Erikson yang memberitahu bahwa STAN mengeluarkan pengumuman tentang kesempatan mendaftar pada Ujian Saringan Masuk (USM) STAN Tahun Akademik 2009/2010 bagi balon pendaftar yang sudah menyetor biaya USM. Isi pengumumannya adalah :
Calon pendaftar USM STAN Tahun Akademik 2009/2010 yang sampai dengan tanggal 7 Juli 2009 telah menyetorkan biaya USM dan GAGAL melakukan e-registrasi akan tetap dilayani/ diberi kesempatan untuk melakukan pendaftaran.
Waktu dan tata cara pendaftaran akan diumumkan paling lambat tanggal 7 Juli 2009 di tempat-tempat pendaftaran dan dapat dilihat pada www.usm.stan.ac.id, www.stan.ac.id, dan www.bppk.depkeu.go.id
Pengumuman ini dikeluarkan oleh Direktur STAN pada tanggal 29 Juni 2009.
Semoga saja mengenai waktu dan tata cara pendaftarannya dapat segera diumumkan tanpa harus menunggu hingga tanggal 7 Juli 2007 dan tentunya semoga lebih mempermudah para calon peserta ujian untuk mendaftarkan dirinya.
File asli pengumumannya dapat didownload disini : peng-kesempatan-mendaftar-usm (dalam format pdf).
Posted in catatan hari ini.
Tagged with internet, kedinasan, pendaftaran, sekolah, STAN.
By heri
– June 30, 2009
Akhir-akhir ini, melihat iklan di tivi, di koran, di spanduk-spanduk parpol, salah satu peserta pilpres melemparkan wacana mengenai pemilihan satu putaran. Syarat pilpres 1 putaran itu berat, Syaratnya adalah apabila terdapat satu pasangan calon harus memperoleh lebih dari 50 persen suara nasional dan terdistribusi 20 persen setidaknya di 50 persen provinsi barulah pasangan capres dan cawapres itu dikatakan menang.
Tapi, kalaupun benar hal itu bisa terjadi, ya itu tak jadi soal, asal pilpresnya memang dilaksanakan dengan jujur dan adil. Jangan lantaran alasan rakyat akan lebih cepat terurus, atau menghemat biaya yang dikeluarkan untuk pemilihan presiden. Biarkan rakyat memilih karena suka dan percaya dengan program anda. So, mau pilpres-nya satu putaran, dua putaran,terserah asal jangan berputar-putar aja alias njelimet lantaran ndak ada yang ndak mau terima kekalahan atau ndak mau ngalah. Kemarin juga sempet baca spanduk bertuliskan : buat milih pemimpin negara kok coba-coba? Ini kampanye pilpres atau iklan minyak kayu putih sih?
Pemaparan program-program dari setiap kontestan pilpres masih sangatlah kurang. Yang ada cuma perang kata-kata dalam iklan. Debat pun masih banyak menggunakan bahasa-bahasa normatif. Yang sedikit-sedikit mengambil potongan kalimat dari sila-sila Pancasila, dari Pembukaan UUD 1945, ataupun dari pasal-pasalnya. Kami sudah mendapatkan itu semua di sekolah pak, bu, yang kami ingin tahu bagaimana program nyata anda untuk semua lapisan masyarakat, ndak cuma wong cilik (cuma lantaran kelompok ini mayoritas), tapi wong menengah dan wong gede juga. Dan jangan pula semua dikatakan sebagai prioritas, misal saat berkunjung ke desa-desa yang banyak petani, ngomongnya pertanian akan diprioritaskan, lalu di lain kesempatan saat diwawancarai mengenai sistem persenjataan TNI, menjawab bahwa hal itu adalah prioritas anda. Pindah, berkunjung ke pesisir pantai yang banyak nelayan, maka disana pula anda mengatakan bahwa keperluan untuk melaut bagi nelayan akan diprioritaskan, lalu yang benar-benar jadi prioritas anda yang mana?
Posted in catatan hari ini.
Tagged with indonesia, kampanye, pilpres, politik.
By heri
– June 29, 2009
Beberapa waktu yang lalu saya dapat kabar melalui email, bahwa salah seorang anggota milis kami akan melepaskan masa lajangnya bulan depan. Sebuah kabar yang mengejutkan bagi saya, kaget aja tiap hari email-emailan tak pernah sekalipun omongan yang menyinggung mengenai hal itu, eh ndilalah ternyata, diam-diam mereka telah merencanakannya, lagian ya masak mau diomongin rame-rame di milis ya? hahahaha….

Salut dengan rencana pernikahan mereka (baca : Udin & Dyah), dan gambar notifikasi karya sang calon mempelai pria ini pun keren sekali [like this]. Semoga rencananya berjalan lancar sesuai dengan apa yang diinginkan. Dan tentunya dido’akan semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah [amien]. Dan insyaallah saya akan hadir di acara pernikahan kalian berdua ^_^
keterangan :
gambar di atas dipublikasikan atas ijin dari sang kreator yang saya minta melalui sang nyonyah, hehehehe….
Posted in catatan hari ini.
Tagged with sendaljepiters, wedding.
By heri
– June 26, 2009
Baru saja mengalami kejadian lucu. Terasa seperti sedang bermain dengan Tuhan.
Hari ini saya menginap di kantor. Dan tadi saya perlu untuk keluar sebentar, makan malam dan ke minimarket. Maka pergilah saya dengan mengendarai sepeda motor. Malam ini saya makan soto betawi Haji Umar Idris yang berada di jalan KS.Tubun-Pejompongan, dan sebelumnya saya mampir ke Alfamart yang jaraknya cuma beberapa meter dari warung soto betawi yang saya tuju. Urusan belanja di Alfamart beres, ke parkiran, lalu berpikir sebaiknya motornya saya tinggalkan saja disitu untuk menghemat ongkos parkir. Nanti kalau motornya saya bawa ke warung soto betawi itu tentu saya diharuskan mengeluarkan ongkos parkir lagi. Oke, jadi saya putuskan untuk meninggalkan motor di parkiran Alfamart, dan saya pun jalan kaki ke warung itu.
Saya pun akhirnya makan soto betawi kesukaan saya. Sembari asik menikmati soto, tiba-tiba terdengar musik ajeb-ajeb gimana gitu. Makin lama makin mendekat suaranya. Astaga….ternyata ada 2 orang bencong yang lagi ngamen. Hmmm..Tuhan tahu aja kalau saya paling tidak suka didekati kaum yang ini. Maka buru-burulah saya cari uang 1000-an di saku dan segera memberikannya pada bencong itu agar segera pergi. Karena saya tidak suka, maka saya meberikan uang itu sambil menunduk tanpa melihatnya. Tapi bencong itu manggil-manggil saya. Setelah saya lihat, baru dia bilang : “Mas, makasih ya.” (dengan pandangannya yang menggoda) *gedubraks* Yayayaya…rencana menghemat uang 1000-ku jadi bubar gara-gara didatengi bencong. Ternyata Tuhan tidak juga mau mengalah pada saya sedikitpun dengan membiarkan saya menuai hasil sesuai dengan yang saya rencanakan.
Lagi-lagi ini membuktikan bahwa kita boleh saja berencana macam-macam, dari A sampai Z, tapi tetap hasilnya yang menentukan adalah Tuhan.
Terimakasih Tuhan, karena telah mengajak saya bermain-main malam ini
Posted in catatan hari ini.
Tagged with cerita, lucu, main, pengalaman, Tuhan.
By heri
– May 27, 2009

oto bemo – bemo oto
beroda tiga – tiga beroda
berhenti tepat – tepat berhenti
di tengah-tengah kota – kota di tengah-tengah
panggil nona – nona panggil
naik segera – segera naik
nona bilang – bilang nona
tidak punya uang – uang tidak punya
jalan kaki saja – jalan-jalan saja
Dulu pertama kali mengenal lagu ini saat saya masih duduk di bangku SMP, ketika saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Biasanya dinyanyikan secara bergantian, seperti saling berbalasan.
Bemo. Hmmm….nama bemo juga mengingatkan saya pada salah seorang pentolan Warkop DKI, siapa lagi kalau bukan alm. Dono, yang di filmnya dulu sering diolok-olok berwajah seperti bemo atau hanoman.
Bemo. Angkutan umum yang satu ini juga memiliki kenangan tersendiri bagi saya. Dulu, kendaraan roda tiga yang unik ini pernah ada di Denpasar. Sewaktu masih kecil saya senang sekali jika diajak naik bemo. Wujud dan suaranya khas sekali. Dan jika diajak naik bemo maka saya akan memilih untuk duduk di bagian paling ujung belakang, di dekat tempat naik-turunnya penumpang. Kenapa? Karena dari situ saya bisa melihat bemo-bemo lain yang melaju di belakang bemo yang saya tumpangi, seperti sedang balapan mengejar bemo yang saya tumpangi. Dan itu bisa membuat saya terpingkal-pingkal saat itu. Kalau diingat-ingat lagi alasan yang membuat saya terpingkal-pingkal itu kok tidaklah lucu, tapi ya heran juga, waktu itu saya betul-betul tertawa geli melihatnya. Saya lupa tahun berapa tepatnya bemo roda tiga itu dihapuskan dari Denpasar.
Dan sekarang, di Jakarta, ternyata saya masih bisa menemukan kendaraan unik ini. Meski keberadaannya sudah mulai tergusur, hanya ada di lokasi-lokasi tertentu saja, saat ini sih seingat saya cuma ada di daerah Mangga Besar dan Bendungan Hilir. Di sebarang jalan kantor saya ada pangkalannya (foto di atas diambil dari situ). Sesekali saya masih menumpang bemo untuk ke arah pasar Benhil. Sedikit-sedikit bernostalgia mengingat masa kecil saya, hehehehe…. Ongkosnya murah, cukup 2.500 perak. Tapi saya tak bisa menemukan kelucuan itu lagi meski saya sudah duduk di belakang sambil melihat bemo-bemo yang ada di belakang bemo yang saya tumpangi. Dan suaranya pun tidak lagi terdengar unik, karena tersaingi suara bajaj. Sulit membedakan suara bajaj dan bemo.
Bemo…bemo, nasibnya makin tersingkir, dipinggirkan, penumpang pun makin jarang, dan akhirnya hilang, seperti kelucuan yang semasa kecil saya rasakan.
Posted in catatan hari ini.
Tagged with angkutan, bemo, Denpasar, Jakarta, kenangan.
By heri
– May 27, 2009
Komentar Terbaru