Ini adalah salah satu alasan kenapa saya kurang suka tinggal di Jakarta. Saat-saat menjelang puasa begini, puasanya aja belum, orang-orang sudah panik nyari tiket buat mudik lebaran nanti. Sedikit banyak saya jadi terpengaruh juga dengan ritme ini. Ikutan latah panik nyari tiket buat mudik. Dan rencananya lebaran kali ini saya tidak ke pulau seberang, cukup di pulau ini saja, cuma bergeser mendekati ujung sebelah timur sana saja. Dan saya pikir untuk perjalanan itu yang enak ya ditempuh dengan kereta api. Karena belum berpengalaman dalam hal ini, tentu saja saya tanya sana-sini. Katanya tiket baru bisa dipesan 30 (tiga puluh) hari sebelum hari keberangkatan, loket pemesanan dibuka setiap harinya dari jam 7 pagi, kemudian ada beberapa lokasi tempat pemesanan, termasuk nomer telepon bila ingin pesan tiket via telepon. Sementara pemesanan tiket kereta api secara online melalui internet sejauh ini sepertinya belum bisa. Tentu saja saya coba yang paling mudah dulu, telepon kesana kemari ke tempat-tempat yang konon menyediakan tiket kereta api. Hasilnya, nihil, ada yang nyambung tapi dicuekin alias tidak diangkat, ada yang tidak ada nada sambungnya sama sekali, ada yang bernada sok sibuk. Dan saya pikir, saya perlu terjun langsung ke lapangan kalo keadaannya demikian. Semalam, pulang kantor saya pun langsung meluncur ke Stasiun Gambir. Ternyata tiket kereta api jurusan ke Surabaya dan Malang rata-rata sudah habis terjual sampai dengan pemberangkatan tanggal 27 September 2008.
Orang-orang yang sedang pada lesaehan itu bukannya lagi kopdaran, tapi lagi pada ngantri di depan loket, yang baru buka keesokan paginya. Saya sendiri tentu tidak ikutan nginep disana, lha saya kan masih harus ngantor. Pulang dengan tangan hampa, perut lapar. Mampir makan di belakang Stasiun Gambir di dekat bus Damri jurusan Cengkareng itu, ada menu rawon. Dan saya pun memesannya, ternyata oh ternyata, rawonnya amat sangat mengecewakan, cuma kuahnya saja yang kehitaman, tapi rasanya sama sekali bukan rawon, huh, neyesel makan disana.
Sampe rumah mikir-mikir strategi apa yang akan saya gunakan agar bisa dapet tiket Gajayana untuk tanggal 28 September 2008. Bangun pagi-pagi, ke kantor dulu, absen, terus ijin untuk ke Stasiun ngantri tiket lagi. Itu yang saya lakukan tadi pagi. Kali ini saya ganti lokasi, ke Stasiun Pasar Senen. Sampe disana jam 7 kurang, loket belum buka, tapi antrian sudah sepanjang ular naga panjangnya bukan kepalang meliak-liuk ujungnya entah dimana.
Ikut masuk antrian, harap-harap cemas, sambil tetap nyoba-nyoba telpon semua nomer reservasi online, ah ternyata sama saja, tidak menghasilkan. Baru antri tidak sampai 30 menit, ada yang mengumumkan dengan TOA bahwa tiket kereta api jurusan Surabaya dan Malang sampai dengan pemberangkatan 28 September 2008 sudah habis. Ahh….tentu ini mengecewakan bagi saya dan para pengantri lainnya. Saya pun melangkah pergi dengan gontai.
Ternyata seperti inilah romantisme ibukota menjelang lebaran, saya pikir sampai 5 tahun kedepan pun hal seperti ini masih akan tetap happening. Mungkin tidak ya perusahaan swasta juga diperbolehkan untuk mengoperasikan angkutan jenis kereta api ini, supaya tidak dimonopoli oleh PT. KAI sendiri ? Saya pikir disitulah asal-usul masalahnya. Kita jadi tidak punya pilihan kereta lain selain naik kereta apinya PT KAI. Beda dengan moda transportasi seperti bus maupun pesawat terbang.
Belum lagi masalah calo. Saya kok tidak melihat keseriusan pemberantasan calo dari pihak PT KAI ini yah? Semalam saya masih ditawari tiket oleh beberapa calo. Padahal di sekitar situ banyak aparat keamanannya. Kenapa tidak ditindak langsung ketika melihat gerak-geriknya. Apa mereka semua itu tidak ada yang melihat seorangpun? Apa saya musti melaporkannya dulu baru calonya ditindak? Wah keburu babak belur saya dikeroyok sama gerombolan calo itu. Akhirnya saya berpikir, oh aparat keamanan itu cuma bertugas mengamankan antrian saja supaya tidak saling berebut, sudahlah. Lalu calonya? sudahlah, jangan berharap dari petugas keamanan itu, kalau ga mau ada calo ya hentikanlah budaya membeli tiket melalui calo.
Intinya, sejauh ini bagi saya, pelayanan kereta api masih sangat jauh dari kata memuaskan. Itu baru dari sisi pemesanan/pembelian tiket, belum lagi gimana keretanya, sarana dan prasarana pendukungnya. Ah, sudah banyak yang membahas hal itu, saya tak perlu menambahinya. Lagian saya ngomel-ngomel begini juga lantaran saya tidak dapet tiket, kalo seandainya saya semalam atau tadi pagi berhasil memperoleh selembar tiket itu, barangkali saya tidak akan senyerocos seperti sekarang ini. Saya cuma pengen naik kereta, terasa ada sisi romantisnya disana. Lebaran masih jauh, puasanya dulu dijalanin dengan bener ya. Mudiknya juga sendirian aja kok, tinggal nyangklong backpack, berangkat deh, insyaallah sampai dan bisa berkumpul dengan semua sanak-saudara, amiennn….SEMANGATTTTTT…. !!!!!!












Turut berbagi bersama beberapa warga 
