clingakclinguk™

melihat, mendengar, dan berbagi

Archive for August, 2008

romantisme ibukota menjelang puasa

8 comments

Ini adalah salah satu alasan kenapa saya kurang suka tinggal di Jakarta. Saat-saat menjelang puasa begini, puasanya aja belum, orang-orang sudah panik nyari tiket buat mudik lebaran nanti. Sedikit banyak saya jadi terpengaruh juga dengan ritme ini. Ikutan latah panik nyari tiket buat mudik. Dan rencananya lebaran kali ini saya tidak ke pulau seberang, cukup di pulau ini saja, cuma bergeser mendekati ujung sebelah timur sana saja. Dan saya pikir untuk perjalanan itu yang enak ya ditempuh dengan kereta api. Karena belum berpengalaman dalam hal ini, tentu saja saya tanya sana-sini. Katanya tiket baru bisa dipesan 30 (tiga puluh) hari sebelum hari keberangkatan, loket pemesanan dibuka setiap harinya dari jam 7 pagi, kemudian ada beberapa lokasi tempat pemesanan, termasuk nomer telepon bila ingin pesan tiket via telepon. Sementara pemesanan tiket kereta api secara online melalui internet sejauh ini sepertinya belum bisa. Tentu saja saya coba yang paling mudah dulu, telepon kesana kemari ke tempat-tempat yang konon menyediakan tiket kereta api. Hasilnya, nihil, ada yang nyambung tapi dicuekin alias tidak diangkat, ada yang tidak ada nada sambungnya sama sekali, ada yang bernada sok sibuk. Dan saya pikir, saya perlu terjun langsung ke lapangan kalo keadaannya demikian. Semalam, pulang kantor saya pun langsung meluncur ke Stasiun Gambir. Ternyata tiket kereta api jurusan ke Surabaya dan Malang rata-rata sudah habis terjual sampai dengan pemberangkatan tanggal 27 September 2008.

Orang-orang yang sedang pada lesaehan itu bukannya lagi kopdaran, tapi lagi pada ngantri di depan loket, yang baru buka keesokan paginya. Saya sendiri tentu tidak ikutan nginep disana, lha saya kan masih harus ngantor. Pulang dengan tangan hampa, perut lapar. Mampir makan di belakang Stasiun Gambir di dekat bus Damri jurusan Cengkareng itu, ada menu rawon. Dan saya pun memesannya, ternyata oh ternyata, rawonnya amat sangat mengecewakan, cuma kuahnya saja yang kehitaman, tapi rasanya sama sekali bukan rawon, huh, neyesel makan disana.

Sampe rumah mikir-mikir strategi apa yang akan saya gunakan agar bisa dapet tiket Gajayana untuk tanggal 28 September 2008. Bangun pagi-pagi, ke kantor dulu, absen, terus ijin untuk ke Stasiun ngantri tiket lagi. Itu yang saya lakukan tadi pagi. Kali ini saya ganti lokasi, ke Stasiun Pasar Senen. Sampe disana jam 7 kurang, loket belum buka, tapi antrian sudah sepanjang ular naga panjangnya bukan kepalang meliak-liuk ujungnya entah dimana.

Ikut masuk antrian, harap-harap cemas, sambil tetap nyoba-nyoba telpon semua nomer reservasi online, ah ternyata sama saja,  tidak menghasilkan.  Baru antri tidak sampai 30 menit, ada yang mengumumkan dengan TOA bahwa tiket kereta api jurusan Surabaya dan Malang sampai dengan pemberangkatan 28 September 2008 sudah habis. Ahh….tentu ini mengecewakan bagi saya dan para pengantri lainnya. Saya pun melangkah pergi dengan gontai.

Ternyata seperti inilah romantisme ibukota menjelang lebaran, saya pikir sampai 5 tahun kedepan pun hal seperti ini masih akan tetap happening. Mungkin tidak ya perusahaan swasta juga diperbolehkan untuk mengoperasikan angkutan jenis kereta api ini, supaya tidak dimonopoli oleh PT. KAI sendiri ? Saya pikir disitulah asal-usul masalahnya.  Kita jadi tidak punya pilihan kereta lain selain naik kereta apinya PT KAI. Beda dengan moda transportasi seperti bus maupun pesawat terbang.

Belum lagi masalah calo. Saya kok tidak melihat keseriusan pemberantasan calo dari pihak PT KAI ini yah?  Semalam saya masih ditawari tiket oleh beberapa calo. Padahal di sekitar situ banyak aparat keamanannya. Kenapa tidak ditindak langsung ketika melihat gerak-geriknya. Apa mereka semua itu tidak ada yang melihat seorangpun? Apa saya musti melaporkannya dulu baru calonya ditindak? Wah keburu babak belur saya dikeroyok sama gerombolan calo itu. Akhirnya saya berpikir, oh aparat keamanan itu cuma bertugas mengamankan antrian saja supaya tidak saling berebut, sudahlah. Lalu calonya? sudahlah, jangan berharap dari petugas keamanan itu, kalau ga mau ada calo ya hentikanlah budaya membeli tiket melalui calo.

Intinya, sejauh ini bagi saya, pelayanan kereta api masih sangat jauh dari kata memuaskan. Itu baru dari sisi pemesanan/pembelian tiket, belum lagi gimana keretanya, sarana dan prasarana pendukungnya. Ah, sudah banyak yang membahas hal itu, saya tak perlu menambahinya. Lagian saya ngomel-ngomel begini juga lantaran saya tidak dapet tiket, kalo seandainya saya semalam atau tadi pagi berhasil memperoleh selembar tiket itu, barangkali saya tidak akan senyerocos seperti sekarang ini. Saya cuma pengen naik kereta, terasa ada sisi romantisnya disana. Lebaran masih jauh, puasanya dulu dijalanin dengan bener ya. Mudiknya juga sendirian aja kok, tinggal nyangklong backpack, berangkat deh, insyaallah sampai dan bisa berkumpul dengan semua sanak-saudara, amiennn….SEMANGATTTTTT…. !!!!!!

Written by clingakclinguk

August 29th, 2008 at 7:26 pm

warna-warni kemerdekaan #2

10 comments

Tanggal 17 Agustus memang sudah lewat, tapi kemeriahannya masih cukup terasa. Tadi pagi, di kantor diadakan acara penutupan lomba-lomba yang diadakan dalam rangka memepringati hari kemerdekaan. Para pegawai berkumpul di areal parkir belakang kantor. Dan acara penutupan pun dimulai. Diawali dengan beberapa sambutan dan do’a, dan semua yang hadir saat itu berdiri, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama-sama. Ah, akhirnya saya merasakannya lagi, lagu gubahan W.R Supratman itu masih memberikan getaran yang sama seperti ketika masih sering mengikuti upacara bendera di sekolah dulu.

Acara resmi pun usai, dan waktunya bersuka-ria. Kali ini lomba-lomba yang tersisa adalah fun game. Ada lomba balap bawa bola pingpong menggunakan centong nasi, lomba menggiring bola dengan menggunakan buah terong, lomba menangkap belut dan memasukkan ke dalam botol (khusus ibu-ibu/perempuan), lomba makan kerupuk dan telur rebus, lomba memecahkan balon dengan mata tertutup, dan lomba tumpeng. Saya sendiri akhirnya ikut lomba juga, lomba balapan membawa bola pingpong dengan centong nasi, dan hasilnya ? saya kalah. Ternyata susah juga, lumayan berat naruh centong nasi di mulut, lalu menjaga agar bola pingpong yang ringan itu tidak terjatuh saat kita berjalan ataupun berlari. Saya bener-bener kalah, paling terakhir sampe garis finish.

Lomba penutup adalah penilaian tumpeng dari masing-masing seksi. Setiap seksi diminta untuk menampilkan kreasi tumpeng masing-masing, meski ada juga yang hasil beli atau pesan ke catering sih. Ada 10 tumpeng yang dinilai.

Lihat tumpeng yang satu ini, ini tumpeng dari seksi yang dihuni oleh kaum adam semua. Sudah jelas toh kalo tumpeng ini bukan buatan mereka sendiri. Tapi tumpeng ini yang tadi pagi paling cepet habis diserbu para pegawai. Tahu alasannya kenapa? itu tuh, ada sate Jono-nya. Saya lagi-lagi sial, udah kalah, ga kebagian satenya pula (cuma kebagian fotonya). Tapi, menurut penilaian dewan juri, ternyata yang jadi juara bukanlah tumpeng yang ini, hehehehehe….kasian. Tapi bukan berarti tumpeng dari seksi saya yang dapet gelar juara, seksi lain di lantai 3 yang menang. Ah, taon ini seksi saya betul-betul gersang, ga memenangkan lomba apapun.

nb (nambah) :

Sebetulannya kesialan hari ini sudah dimulai sejak tadi pagi pas mau berangkat ngantor, mau keluarin motor dari parkiran, periksa-periksa dulu, liat ban belakang, yahhh…kan lagi, sebatang paku kecil menancap dengan manisnya di ban belakang si bebek hitam berjambul merah.  Akhirnya ngojek deh, untung ga telat sampe kantor.

Written by clingakclinguk

August 22nd, 2008 at 4:42 pm

warna-warni kemerdekaan

8 comments

Besok ulang taon negeri tercinta. Bermacam-macam orang memaknainya, banyak pula cara orang memperingatinya. Ada yang mengadakan berbagai macam lomba, ada yang pergi ke puncak gunung, ada pula yang liburan ke Bali. Tapi sudah barang tentu yang paling banyak dilakukan adalah upacara bendera, itu sudah menu wajib. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai macam kemeriahan perlombaan khas 17-an. Saya sendiri, ga begitu yakin apa pernah berpartisipasi dalam kemeriahan lomba-lomba itu. Kalo upacara bendera beda, sejak kelas 5 SD sampai tamat SMA saya tak pernah absen dari kegiatan yang satu itu, saya selalu jadi petugas upacara, dan saya begitu menikmati kegiatan yang pada umumnya dibenci anak sekolah. Saat itu saya suka baris-berbaris, saya suka berorganisasi, saya suka diberi hukuman sama senior (kelainan), saya suka berpanas-panasan, jadi rasanya ga ada alasan saya saat itu untuk membenci upacara bendera. Tolong perhatikan yang bercetak tebal. Lalu saat ini bagaimana ? Ada rasa rindu pada masa-masa itu, tapi ya tentu saja saya tak mau melakukannya lagi saat ini. Apalagi di kantor ga ada kegiatan upacara bendera setiap hari Senin seperti masa-masa sekolah dulu, hehehehe….

Lalu di kantor ada kegiatan apa dalam rangkaian memperingati HUT RI ke-63 kali ini ? Ada banyak lomba, terutama lomba-lomba olahraga, seperti bola voli, futsal, badminton, bola pingpong, dan catur. Dan kali ini lombanya berskala kecamatan, jadi ada 3 kantor yang ikut bertanding. Dimana pada tahun-tahun sebelumnya hanya setingkat kantor saja, alias per seksi.

Dan bagaimana dengan perayaan kemerdekaan di sekitar tempat tinggal saya? Setiap rumah sudah memasang bendera dengan segala macem ukuran, tak peduli perbandingan antara tiang dengan lebar bendera apakah sudah 7 : 1 atau tidak. Memasangnya pun terkesan asal pasang, mau gaya tegak kek, mau gaya miring kek yang penting pasang bendera. Gang dipenuhi dengan hiasan berupa umbul-umbul, bendera merah putih kecil-kecil, dan nyaris semua badan jalan dan gang sudah digambari tulisan START & FINISH, juga gambar lapangan bola dadakan. Ah, sepertinya besok jalan-jalan akan ditutup semua karena semuanya akan dijadikan lokasi lomba.

Ya inilah warna-warni perayaan kemerdekaan di negeri kita. Semoga dibalik kemeriahan perayaannya tak mengurangi makna dari kemerdekaan itu sendiri. Kira-kira apakah kemerdekaan yang seperti sekarang ini yang diimpikan oleh para pejuang kemerdekaan dulu yah? Lalu ada pula pertanyaan yang muncul : APAKAH BENAR KITA SUDAH MERDEKA ? masih banyak yang meragukannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia seperti ini :

mer·de·ka /merdéka/ a 1 bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri: sejak proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 itu, bangsa kita sudah –; 2 tidak terkena atau lepas dr tuntutan: – dr tuntutan penjara seumur hidup; 3 tidak terikat, tidak bergantung kpd orang atau pihak tertentu; leluasa: majalah mingguan –; boleh berbuat dng –;

Mungkin ketiga makna yang ada di KBBI itu bisa dijadikan bahan perenungan malam ini, daripada bengong-bengong tanpa tujuan, palagi yang ga punya kegiatan di tengah liburan panjang kali ini.

Sudah malam, mau hasil jawabannya merdeka kek, mau enggak kek, saya ingin mengucapkan selamat untuk negeri yang membiarkan saya menginjak-injaknya selama lebih dari 20 tahun ini, untuk negeri yang kata orang-orang yang pernah tinggal di luar negeri bilang bahwa mereka punya hubungan benci tapi rindu pada negeri ini. Sementara saya sendiri ? bagaimana saya bisa membencinya ? mengenalnya saja belum sepenuhnya, saya baru menginjakkan kaki di berapa pulau yang dimiliki Indonesia sementara negara ini punya ribuan pulau yang indah.

DIRGAHAYU NEGERIKU, DIRGAHAYU BANGSAKU, INDONESIA, MERDEKA !!!!

keterangan foto:

pertama : lomba voli di kantor

kedua : pemandangan sore ini dari balkon kost-kostan :-)

Written by clingakclinguk

August 16th, 2008 at 10:40 pm

Posted in catatan hari ini

Tagged with