Stasiun-stasiun televisi di negeri ini cukup cepat tanggap, cukup kreatif menciptakan acara-acara baru, tapi sayangnya kok bagi saya tetap kurang memberi manfaat. Setelah banjir sinteron, berganti ke acara kontes-kontesan, sekarang banyak disiarkan acara debat-debatan. Mungkin ini sekedar pengen menunjukkan, ini loh bukti negera kita adalah negara yang demokratis. Hampir tiap hari saya nemu acara macem begini. Tapi kok saya cenderung menilai bahwa acara debat semacem itu tidak berguna sama sekali, buang-buang energi tanpa solusi. Dan yang lebih bikin saya merasa iritasi lagi adalah pihak-pihak yang sengaja “diadu” dalam acara perdebatan itu. Yang satu pihak yang konon menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, dan yang satu lagi adalah pihak yang menjunjung tinggi nilai demokrasi dan HAM. Pihak yang bagi saya pribadi punya lajur masing-masing, dan saat diadu, keduanya tak akan pernah menemukan titik temu. Apalagi ditambah dengan moderator yang lebih cenderung berperan sebagai provokator untuk bergantian saling memanasi pantat kedua pihak yang berdebat. Terbakar lah sudah.
Bagi saya pribadi, acara semacem ini kok ya nambah meperuncing yang namanya perbedaan. Ngotot-ngototan merasa dirinya paling benar, tapi toh ujung-ujungnya di akhir acara saling salam-salaman, pelukan, cuma itu solusinya? Hey, apa gunanya ngotot-ngotot? ngomong sampe muncrat-muncrat kalo hasilnya cuma salaman dan peluk-pelukan? Bayangkan coba, setelah emosi kita dipanas-panasi dengan menyaksikan acara semacem itu, terus menemukan ending sekedar peluk cium? Betul-betul anti-klimaks. Kecewa saya. Coba sekalian jambak-jambakan, jotos-jotosan, pasti ratingnya tinggi tuh.
Sayang sekali saya ini tergolong manusia yang benci tapi selalu rindu pada sebuah kotak yang bernama televisi. Kalau tidak tentu saya sudah berhenti nonton televisi.





Turut berbagi bersama beberapa warga 
