October 6, 2008 0

oleh-oleh lebaran

By in catatan hari ini, jelajah negeri

Saya ingin berbagi oleh-oleh dari kampung, oleh-olehnya tentu saja bukanlah makanan khas ataupun cinderamata, melainkan sebuah cerita. 

Sudah lama saya tidak mudik ke tanah Jawa dan merasakan langsung kekentalan tradisinya. Bahkan mungkin baru mudik kali inilah saya betul-betul disadarkan bahwa saya juga tidak bisa lepas dari tradisi Jawa. Sebetulnya saya tidaklah tahu betul yang mana dikatakan sebagai tradisi Jawa dan bukan, karena saya tidak dibesarkan disana, tapi karena kemarin saya mengalaminya di Jawa maka saya menyebutnya sebagai tradisi Jawa. 

Pertama kali membayarkan zakat sendiri dengan cara yang menurut saya terbilang unik. Di kampung, zakat dalam wujud beras lebih mendominasi dibandingkan dalam bentuk uang. Di saat kita membayarkan zakat, maka amil zakat akan mengambil sedikit beras zakat kita, lalu membacakan do’a dalam bahasa Arab dan Jawa halus sambil menjabat tangan kita yang intinya do’a agar zakat tersebut bisa membersihkan diri kita, dan kita diminta untuk melafalkannya juga, mirip ijab kabul pernikahan.

Di saat malam takbiran, kebetulan di kampung mati lampu. Kampung yang jika tidak mati lampu saja begitu sepi, ini ditambahkan dengan gelap gulita. Suara takbir seperti enggan untuk diteriakkan dengan lantang. Hanya beberapa orang saya yang berdiam diri di langgar mengikuti takbiran. Ternyata takbiran di dalam kegelapan memberikan nuansa yang tersendiri, begitu terasa, bukan hanya sekedar teriakan kalimat takbir.

Keesokan paginya mengikuti sholat Id di sebuah masjid yang tidak jauh dari rumah nenek. Peserta sholat tidak sebanyak di kota, masjid dengan ukuran halaman yang tergolong tidak besar itu masih mampu menampungnya. Semua peserta begitu tertib mengikuti rangkaian acara hingga khotib menyelesaikan khotbahnya yang menggunakan bahasa Jawa halus (lagi-lagi saya tidak begitu mengerti isi dari khotbah itu).

Selesai sholat Id, langsung berkeliling kampung, mengunjungi sanak saudara. Ternyata hampir seisi kampung itu punya hubungan saudara dengan keluarga saya, entah itu dari kakek buyutnya, dari kakek-neneknya, dari besanan, dan lain sebagainya. Tidak cukup hanya sehari untuk bersilaturahmi dengan mereka semua. Itu yang membuat hari-hari saya terasa begitu sibuk. Kalau tidak menerima tamu-tamu, maka saya bersama keluargalah yang berkunjung ke rumah mereka. Saling kunjung mengunjungi ini dilakukan berdasarkan tingkatan usia. Semakin muda usia, maka bersiap-siaplah untuk berkeliling mengunjungi saudara-saudara yang lebih tua. Dan ukuran tua-muda itu juga tidaklah didasarkan pada usia kita saya, tapi juga pada usia orangtua, atau bahkan kakek-nenek kita. Disinilah saya seringkali merasa kikuk. Suatu waktu bisa saja saya diharuskan untuk menyapa seseorang yang usianya lebih muda dari saya dengan embel-embel “mas” atau “mbak” atau bahkan “pakdhe”, “budhe”, “paklik”,”bulik” di depan namanya hanya lantaran orang itu adalah anak atau cucu dari kakaknya nenek/kakek saya. Bisa juga sebaliknya, saya dipanggil dengan embel-embel “mas” di depan nama saya oleh seorang laki-laki yang usianya cukup jauh lebih tua daripada saya lantaran orang itu adalah anak atau menantu dari adik bapak saya. Semoga kalian mengerti saat membaca penjelasan saya yang cukup njelimet ini, tapi itulah Jawa.

Di setiap acara silaturahmi itu yang dibicarakan sebagian besar adalah tentang cerita-cerita masa lalu, orang-orang tua itu saling bercerita tentang bagaimana kita di waktu kecil dulu, juga tentang kenakalan-kenakalan orang tua kita di masa kecil mereka. Dari situlah saya tahu dari mana saya mendapatkan sifat keras kepala. 

Buat orang-orang di kampung, lebaran kemaren itu bukanlah puncak kemeriahan dari lebaran. Puncaknya baru besok, hari ke-7 di bulan Syawal, disinilah pesta ketupat diadakan, di setiap membuat ketupat dan opor ayam. Sehingga seringkali hari ke-7 di bulan Syawal itu disebut dengan hari raya kupatan atau ada juga yang menyebutnya sebagai hari raya Syawalan (bukan swalayan). Tidak hanya dimeriahkan dengan ketupat, tapi juga kegiatan pergi ke laut beramai-ramai. setahu saya tidak ada ritual khusus yang dilakukan oleh mereka di laut sana, hanya pergi kesana dengan segala macam cara, naik truk, naik motor atau bahkan berjalan kaki naik turun bukit berkilo-kilo meter jauhnya, kemudian makan lontong bersama, mandi di laut bagi yang berani dengan derasnya ombak pantai selatan, kemudian pulang. Meski tidak ada aktivitas ritual khusus yang diadakan disana, tapi acara pergi ke laut dan makan ketupat disana di hari raya Kupatan itu sudah menjadi ritual tersendiri. Tidak ada yang bosan untuk pergi kesana setiap tahun, selalu saja seperti ada magnet yang menarik ribuan orang untuk datang beramai-ramai ke laut.

Hiruk-pikuk lebaran pun usai, kembali ke kehidupan normal. Aktivitas dimulai sejak Subuh. Usai sholat, maka setiap orang di rumah mbah akan mengambil perannya masing-masing. Mbah akan sibuk di dapur, suami adik sepupu saya sibuk mengeluarkan sapi dan embeng, si anak sapi dari kandang ke halaman belakang, membersihkan kandang dari kotoran sapi lalu menyiapkan peralatan tempurnya untuk menaiki beberapa puluh pohon kelapa untuk mengambil air nira sebagai bahan untuk membuat gula merah. Dan adik sepupu saya sibuk menyapu dan merapikan rumah yang kemudian dilanjutkan menyapu halaman yang cukup luas,lalu diteruskan untuk memasak air nira hingga menadi gula merah. Saya agak sulit untuk ikut berbaur menyibukkan diri, karena saya tidak tahu harus melakukan apa. Beda dengan bapak-ibu saya yang begitu datang, mereka juga langsung ikut terbawa dalam kesibukan keseharian itu. Siklus kesibukan seperti ini terjadi 2 kali dalam sehari, padi dan sore hari. Dan begitu jam 8, mereka semua akan bersiap untuk beristirahat. Iya, di kampung sulit untuk tetap bertahan terjaga hingga tengah malam, baru jam 8 malam saja, rasa kantuk sudah bergelayut di kelopak mata. 

Berlibur lebaran selama seminggu di kampung betul-betul membuat saya seperti sedang menyelami dan merasakan langsung cerita di dalam Para Priyayi-Umar Kayam maupun Canting-nya Arswendo Atmowiloto. Ada rasa senang karena bisa sedikit banyak bisa merasakan langsung tradisi Jawa, menjadi bagian di dalamnya, tidak hanya mengetahui dari kedua novel itu, tapi di sisi lain ada rasa kikuk, riweh dengan segala tetek-bengek tradisi itu. 

Buat semuanya, selamat bekerja kembali ya

Tags: , ,

No Responses to “oleh-oleh lebaran”

  1. sapimoto says:

    Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin

  2. flowflow says:

    bukannya kalo berzakat selalu begitu?
    di tempatku selalu gitu her…
    sama kek kalo kita berkurban…
    lebih afdol lagi katanya kalo kita sendiri yang menyembelih…

    cuman ya itu… nggak tega…
    teganya kalo udah jadi sate aja… :-D

    baru inget gara gara yang komen SAPImoto
    kemaren pas ke lumajang, pas kamu bilang belakangnya bau sapi…
    sumpah loh… saya langsung mencoba mengingat ingat.
    kapan ya terakhir nyium bau bau sapi gitu…
    ternyata udah lama banget…
    hahaha jadi saya cukup beruntung mampir ke tempat nenekmu…

  3. heri says:

    @ sapimoto :
    sama-sama, pak

    @ flow :
    seingetku di denpasar tidak bgitu, cuma ngisi blanko yang telah disediakan dan menyerahkan uang zakatnya, beres. apalagi selama sekolah dulu, zakat selalu dibayar lewat sekolah, jadi lebih ga tau lagi sama tradisi semacem itu.

    coba kalo datengnya lebih siangan lagi, mungkin kamu bisa dapet kesempatan bermain dengan sapi-sapi itu.

  4. holydee says:

    kalo aku malah cuma angkat hape dan telpon ortu, bilang ikutan zakat di sono, selesai…kalo gitu piye ya…

    pak heri postingannya puanjang nian….

    besok ikutan ngeblog panjang juga ah…

    eh lupa bilang, maap zahir batin yakkkk

  5. heri says:

    @ holy :
    maap lahir dan batin juga
    mau posting jadi beberapa postingan kok rasanya nanggung, jadi ya disatukan saja, tapi iya, panjang juga ya (baru nyadar)

Leave a Reply