October 9, 2008 0

gombalan matahari

By in catatan hari ini

 

the sun

Semalam dengar radio. Sudah lama saya tidak menyediakan waktu khusus untuk melakukan aktivitas yang satu ini. Secara tidak sengaja saya mendengar kisah ini. Saya lupa atau lebih tepatnya tidak tahu stasiun radio apa yang saya dengarkan semalam. Saya hanya ingat penyiarnya sedang membacakan sebuah kisah gombal. Kira-kira seperti ini ceritanya. Ada sepasang kekasih. Perempuan bertanya kepada lelaki.

 

Perempuan : Jika aku menjadi bunga, kamu akan menjadi apa?
Laki-laki : Aku akan menjadi matahari
Perempuan : Jika aku menjadi bulan, kamu menjadi apa?
Laki-laki : Aku akan tetap menjadi matahari
Perempuan : Jika aku menjadi burung phoenix?
Laki-laki : Aku aku tetap memilih menjadi matahari.

 

Perempuan heran dan sedikit jengkel mendengar jawaban laki-laki itu. Tanpa menanyakan alasan kenapa laki-laki itu memilih menjadi matahari perempuan itu pun pergi.

Dia marah, kenapa juga laki-laki itu menjadi mentari yang jauh disana, kenapa tidak memilih menjadi kumbang ketika perempuan itu menjadi bunga, sehingga mereka bisa menari bersama ketika diterpa angin? Kenapa laki-laki itu memilih menjadi matahari ketika perempuan menjadi bulan? bukankah matahari dan rembulan itu tidak pernah bersama? kenapa pula tetap menjadi matahari saat perempuan menjadi phoenix?

Jawabannya. 

Laki-laki itu memilih menjadi matahari di kala perempuan menjadi bunga karena mataharilah sumber kehidupan, untuk mekar bungan membutuhkan matahari. Tak peduli meski hanya bisa melihat dari kejauhan, matahari akan tetap memberikan sinarnya bagi bunga, meski bunga tampak asyik bercengkrama dengan kumbang, matahari pun tak kan menghentikan sinarnya karena hal itu. 

Laki-laki itu tetap memilih menjadi matahari karena dia tahu, keindahan bulan di malam hari itu karena pantulan cahaya matahari. Matahari rela untuk tetap berada di belakang layar ketika bulan tampak begitu cantik di malam hari. Siapa yang ingat akan matahari ketika memandangi indahnya bulan ? Bulan tak akan tampak tanpa adanya pantulan sinar matahari. 

Laki-laki itu pun tetap menjadi matahari ketika perempuan menjadi phoenix, si burung api yang melanglang buana. Karena laki-laki itu pun tahu, sejauh apapun phoenix pergi, hanya mataharilah yang selalu siap menerimanya kembali kapanpun. Karena mereka berdua adalah sama, sama-sama api.

Kira-kira seprti itulah ceritanya. Ingin menjadi apakah anda bagi pasangan anda ? 

 

ketika ada,
memberi arti,
ketika tiada,
tak mengurangi sebuah arti

 

Tags:

No Responses to “gombalan matahari”

  1. eva says:

    ah ternyata, gombal *berlalu* :-P

    tapi btw btw

    ketika ada memberi arti, ketika tiada tak mengurangi arti

    jadi artinya gitugitu aja donk? *ditimpuk* :-D

    Yang nggombal menjawab :

    seperti kerupuk, makan kalau pake kerupuk jadi lebih enak, tapi kalaupun ga ada kerupuk, toh tetep aja makan

    jangan berpikir saya berandai-andai jadi kerupuk, apalagi dengan kondisi fisik yang kurus kering begini, hehehe….

  2. holydee says:

    plok plok plok *tepuk tangan*

    pak heri, ini sungguh gombalan yang patut dicoba…touching soale…

    *lirik lirik jeng eva*

  3. heri says:

    @ holy :
    lha ini apa, saya kan sedang mencoba gombalan ini, sepertinya gagal, hahahahaha….. *gubraks*

  4. holydee says:

    setelah kemaren dyra ma udin main peluk2 dan timpuk2 di blog sekarang pak heri ma jeng eva gombal2an…haduh…hafuhh…anak muda jaman sekarang..uhuk…uhuk…(nini nini mode:on)

  5. udin says:

    klo saya milih kwaci bunga matahari…
    enak enak nyusahin gitu…

  6. chang'e says:

    Holy: tampar-tamparan, bukannya? :D

    Hekekek, ga jelas smua iki, marai ngekek :lol:

    hm, suka penjelasannya :) dan suka phoenix-nya :D

  7. iwan says:

    jadi saya sendiri wae wes

  8. heri says:

    @ udin :
    hahahahaha….menyusahkan tapi tetap disukai (namanya juga udah terlanjur cintrong)

    untung saya ga suka kwaci

    @ chang’e :
    sapa yang tampar-tamparan? *nggossip*
    hehehe…di dalam penjelasannya itulah letak gombalannya, beda dengan bahasa undang-undang, yang suka cuma bikin kalimat : “Cukup jelas”
    di dalam penjelasan pasal demi pasalnya.

  9. flowflow says:

    lebih enak jadi yang punya matahari (dept.store)…
    pasti kekasihnya terjamin… :-)

  10. chang'e says:

    kalau yang punya, eh, jaga, ‘Sinal Halapan’, Pak Flo? *halah, tambah nggosip :P *
    hehe..

    pak udin, pak heri, ada lho cemilan kuaci yang udah dibuka kulitnya dan salut coklat. Enak lho, dan ngga repot pula. Tapi buatan Cina kayaknya, hahaha… Ngga tahu deh, masih ada ngga di pasaran :)

  11. holydee says:

    seruan yang pake buka kulit ng’e, apalagi pake acara bibirnya jontong gara2 keasinan…

  12. heri says:

    betul kata holy, apalah arti kuaci tanpa kulitnya, ga seruuuu…
    -malah bahas kuaci-

  13. flowflow says:

    iya apa artinya kuaci tanpa kulitnya
    sama tiada artinya kulit kuaci tanpa isinya
    mereka berdua itu sudah ditakdirkan sepasang nge’
    kamu nggak berhak misah misahin mereka
    apalagi sampe menjodohkan sama coklat…
    kamu nggak berhak!!

    *belajar akting*
    :-D

  14. flowflow says:

    chang’e
    yang punya sinal halapan…
    ah no komen ah…

  15. chang'e says:

    Ya paling ngga kan saya ngga njodoh-njodohin kulit kuaci sama coklat…
    :D

    *wah payah banget ik, malah diseneni.. Hiks hiks*

  16. chang'e says:

    Oh iya!
    Kan Koh Udin tu yang jaga Sinal Halapan ya? Terus yang punya sebenernya siapa?

    Jangan” Pak Flow?

    Hihi, pantesan no komen :D

    *cepet” kabur*

  17. eva says:

    haiyaaah..

  18. chang'e says:

    aah… cik dyra dan koh udin.. maafkan aku membicarakan kalian di sini.. maaf ya, aku cuma bercanda…

    pak flow juga.. maafkan..

    *feeling guilty*

    hhh..

    pak heri juga.. maafkan, OT..

  19. flowflow says:

    hahahaha
    anggap aja blog sendiri nge’…

    *ditimpuk heri*

  20. holydee says:

    waduh!harusñ saia y minta maaf,saia y mulai,maap maap maap

  21. heri says:

    lho…lho…lho ada apa ini kok malah maap-maapan? blom puas lebarannya ya?
    silakan nulis apa aja, toh klo saya tidak suka, saya cukup men-delete-nya saja :-)

  22. chang'e says:

    fiuh.. *lega karena ngga di-delete, which means ngga pa-pa*
    :) uhm, kalau lebaran itu, ngga ada puasnya, Pak Heri, maunya setiap hari Lebaran, hehe ^^

    tengs ya..

  23. Bunda Lanang says:

    Waduh… Waktu baca isi postingan saya tersipu-sipu. Aduh pak heri ini bisa aja! Saya jadi merasa digombali abis ga dikasih catatan diperuntukkan wad siapa gitu..

    *huuua awas ditimpuk eva*

    lha itu komennya malah pada ngerusak suasana yak. Pada mbahas kuaci pula!
    Emang kuaci gimana rasanya? Abis ga pernah ngerti cara maemnya!

  24. dyra says:

    Walah, baru liat postingannya. Paiyah!
    Btw, pantesan ada yg klepek-klepek, yg punya blog jago ngegombal *nyotek radio ga masup itungan deh*

    Lg ngantuk, ada bacaan seger.

  25. diah says:

    siiihiii… jeng eva kok malu-malu sih ;)

    aku buat pasanganku? i’ll everything that he needs. jadi istrinya, jadi sahabatnya, jadi kokinya, jadi ahli gizinya, jadi penjahitnya. halah serius amat njawabnya, hihi..

  26. heri says:

    @ diah :
    serius amat, bu
    hahahahahahahaha……

  27. flowflow says:

    hahahaha
    diah curhat ya?

  28. diah says:

    udah curhat, salah nulis pula. i’ll be everything that he needs.. ealah, diulang lagi seriusnya..
    silakan kalian ketawa lagi. huh!
    hahaha…

  29. heri says:

    gapapa, sapa tau ada yang liat dan berbunga-bunga ketika membaca komennya diah :-)

  30. chang'e says:

    Iya, semoga dia tahu.. ;)

  31. dyra says:

    aaaah,,, diah, aku mau jadi pasanganmu!!
    :lol:

  32. heri says:

    @ chang’e :
    pssssttt….siapa sih “dia” itu? *nggossip*

    @ dyra :
    jadi kamu yang dimaksud “dia” oleh chang’e? lha koh udin bagemane?

Leave a Reply