Yan Gumanti bajang tan bina ya pucuk nedeng kembang
Di suba ya layu tan wenten ngerunguang ngemasin makutang
To I Bungan Sandat selayu layu layune miik
to ye nyandang tulad seuripe melaksana becik
Becik melaksana de gumanti dadi kembang bintang
mentik di rurunge makejang mengempok raris keentungang
Para truna truni mangda saling asah, asih, asuh
menyama braya to kukuhin rahayu kepanggih
Lagu ini pertama saya kenal saat saya masih SMP. Dibawakan oleh kelompok paduan suara kakak kelas terdengar begitu indah, dan saya pun jatuh hati pada lagu ini.
Lagu Bungan Sandat karya Alm. A.A Made Cakra ini tidak hanya indah tapi juga berisikan nasehat untuk generasi muda. Agar para muda-mudi tidak seperti bungan pucuk (kembang sepatu - Hibiscus rosa-sinensis L), yang di kala mekar begitu indah warnanya, membuat orang tertarik untuk memetiknya, namun dia cepat layu, dan akhirnya akan dibuang. Lain halnya dengan bungan sandat (bunga kenanga - Cananga odorata), bunga dengan warna mahkota yang tidak mencolok, bentuknya mahkotanya pun sederhana, namun sejak kuncup, mekar, layu hingga mengering keharumannya masih tetap ada. Untuk itu diharapkan agar muda mudi tidak terlena oleh keindahan fisik yang tampak oleh mata saja, tetapi bersikaplah yang sederhana namun memberi manfaat banyak sehingga sampai kapanpun akan tetap harum namanya. Selain itu para muda mudi diharapkan agar saling asah-asih-asuh, sehingga kebahagiaan pun akan tercapai.


Walah, saya belum pernah denger lagi ini, bahkan syairnya saya juga sangat asing. Ini lagu Bali, Her?
Gimana kabar yang dulu itu, apakah sudah layu???
Hmmm, posting komentar harus melewati Anti-spam…
weh kirain lagu jawa
tapi banyak yang serupa kata-katanya dengan kata jawa seperti Truna, kembang, bintang he he he he