Salah satu objek wisata yang sempat saya singgahi saat berlibur di Manado adalah air terjun Kali. Terletak di desa Kali, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Lokasinya tidaklah jauh dari kota Manado. Dan mudah dijangkau dengan angkutan umum. Kita bisa kesana menggunakan anggutan umum dari Pasar Pinasungkulan yang dikenal juga dengan nama terminal Karombasan. Tinggal tanya aja disitu angkutan untuk ke air terjun Kali.
Perjalanan dari Terminal Karombasan ke desa Kali ini cukup singkat, tidak sampai 1 jam. Angkutan umum ini melintasi pedesaan, dimana salah satu mata pencaharian penduduknya adalah membuat kopra. Tak jarang angkutan umum yang kita tumpangi disesaki berkarung-karung kopra. Ada hal yang menyenangkan di saat melintasi pedesaan ini, yaitu kehangatan warganya, mereka begitu ramah, sepertinya sopir angkutan umum ini mengenal semua warga desa, jadi saat berpapasan dengan warga, mereka pun saling bertegur sapa. Bahkan sesekali sopir sengaja menghentikan mobilnya untuk mengobrol dengan salah seorang warga di yang sedang berada di pinggir jalan. Betul-betul suasana yang sulit saya temukan di Jakarta.
Dalam perjalanan menuju ke lokasi objek wisata yang satu ini kita akan melewati persimpangan jalan menuju ke makam salah satu pahlawan nasional yang saat ini bisa kita lihat gambaran wajahnya di lembaran uang Rp. 5000,- (lima ribu rupiah), Tuanku Imam Bonjol, tokoh yang memimpin Perang Paderi di Minangkabau antara tahun 1821 hingga 1837. Setelah tertangkap, akhirnya beliau diasingkan ke Pineleng hingga akhirnya wafat pada tanggal 6 November 1864.
Tempat pemberhentian angkutan umum yang kita tumpangi itu tepat di depan gerbang objek wisata Air Terjun Kali. Dari situ kita harus jalan kaki menyusuri jalan setapak yang terbuat dari beton, berhati-hatilah, karena agak sedikit licin akibat ditumbuhi lumut. Di sekeliling kita disuguhi warna hijau dimana-mana. Penuh dedaunan.
Dan bila kita menoleh ke belakang, akan disuguhi pemandangan lautan yang tenang, di kejauhan sana tampak Manado Tua dan Bunaken. Sesekali kalau beruntung kita bisa melihat burung dengan warna bulu yang indah bertengger di salah satu dahan pohon. Sepanjang perjalanan, kita akan melewati beberapa pos peristirahatan yang kondisinya sudah cukup memprihatinkan, sudah rusak, banyak coretan disana-sini. Jalan kaki menuju lokasi air terjun ini ternyata memakan waktu lebih lama dibandingkan perjalanan naik angkutan umum dari terminal Karombasan ke gerbang objek wisata ini, hehehehe….jadi minimal bawalah air mineral buat jaga-jaga kalau haus di tengah jalan.
Untuk bisa melihat dan menikmati sesuatu yang indah itu perlu perjuangan. Dan dengan perjuangan itu makin terasa indah semuanya. Benar saja, setelah berjalan jauh menyusuri jalan setapak, langkah demi langkah, akhirnya mulai terdengar derasnya air mengalir dari ketinggian, dan akhirnya takjub melihat air terjun itu. Air terjun Kali memang cantik. Derasnya air itu menjadikan air tampak berwarna putih, di dengan dikelilingi hijaunya tetumbuhan di tebingnya. Kelelahan langsung terbayar lunas oleh indahnya pemandangan ini ditambah segarnya butiran air yang membasahi kulit.
Ada sebuah jembatan kecil untuk menyeberangi aliran sungainya. Tapi karena air tejunnya terlalu deras, jadi saat melintasi jembatan ini pun kita bisa basah kuyup. Ini juga yang cukup menyulitkan untuk mengabadikan pemandangan air terjun nan cantik ini. Jadi disarankan untuk membawa kamera waterproof sehingga bisa berfoto ria dengan leluasa. Di jembatan ini pun harus tetap berhati-hati, karena jembatannya licin, dipenuhi lumut.
Hari makin sore, dan langit pun tampak mendung. Karena tidak ingin kehujanan, kemalaman, ditambah kehabisan angkutan umum, maka kegiatan menikmati indahnya air terjun pun harus disudahi. Terima kasih untuk nona pelangi yang sudah menunjukkan, dan tentunya menemani saya ke tempat yang indah ini di hari Sabtu, 24 Mei 2008






wuih, kamu abis dari sana??? oleh2nya mana?
eh, halo, nona pelangiii….!!!
Cantiiiknyaaa
Iya nih Pak Heri.. di mana Nona Pelangi?
Blog ini, makin canggih aja tampilannya
@ mbok venus : hehehe…ini sebetulnya cerita taon lalu yang belum sempet dipublikasikan *halah*, oleh-olehnya, ya cerita ini, selain itu udah habis, hihihi…
@ chang’e : nona pelanginya udah tidur, hehehe…makasih, chang’e
ah…. indah nian air terjunnya pak…
dan penyampaiannya juga ciamik. detail.
makasih telah berbagi.
salam buat nona pelangi.
bagus banget ya air terjunnya, kayak di surga! sejuk ….
Udah pernah ke surga Nad? Naik bis jurusan apa?
Sopir yang sengaja menghentikan mobilnya untuk mengobrol dengan temannya masih suka aku temuin di Jakarta lho. itu sopir angkot S-05 jurusan pasar Minggu-Kober. bedanya kalau di Jakarta, sang sopir dikasih bonus klakson dan umpatan dari sopir kendaraan yang lain soalnya bikin macet, hihii..
lebih gede dari madakaripura ya? lebih indah juga kayaknya, tanpa suasana mistis seperti di madakaripura, hehehe…
kangen nona pelangi…
@ udin : duh, makasih atas pujianmu, din
@ nadya : pertanyaannya sama dgn pertanyaan udin, nandya udah pernah ke surga? makasih ya atas kunjungannya
@ diah : smua pengguna jalan di jakarta kan ndak ada yg ndak kejar setoran
madakaripura lebih gede drpd air terjun yang ini, tapi jarak dr gerbang ke air terjunnya lebih jauh, soal suasana yang pasti di air terjun kali ini jauh lebih sepi, dan ndak ada penjual indomie, pisang goreng dan ojek payung seperti halnya di madakaripura, hehehehe….
mana gambar nona pelanginya nih??
cuit cuit… halah
@ Mr. Flow : maaf ye, gambar nona pelangi hanya untuk koleksi dan konsumsi pribadi penulis, hihihi
@ Beruang Qutub : makasih-makasih, benernya mau jadi penulis apa kiritikus toh? sudah-sudah mending profilnya diselesaikan dulu sana, hahahahaha…..
@ fajarseraya : sok atuh kesana
Gay penulisannya berkembang bagus, makin matang. Cuma agak sedikit terburu – buru saat mau mengakhirinya.
Tetap semangat !!!
( obsesi sok jadi penulis terkenal yang ngomentari tulisan orang hwe…hwe…hwe…!!)
Ah, kapan aku bisa ke air terjun kali ya……
kesana ah….
bagus bgt, ini yang diaplod di fesbuk bukan pak?
tadinya dah mau komen disana tapi ndak jadi…(terlalu banyak pertimbangan, hahahahahahahahahahah)
#udin : 613 din, habis itu nyambung busway jurusan surga, mbayarnya ndak pake duit, pake nyawa….
suka deh ternyata sekarang ada gambarnya gara si wp niy ngetrack.nya imel…hahahahahaha (ndak penting)…
air terjun kali bagus sekali oom,
kapan2 ulul diajak kesana ya?
ntar gantian tante pelangi yang diajak ke coban rondo, coban talun ato coban pelangi, hehe..
@ heri
naik busway menuju surga mbayarnya pake nyawa, klu nyasar ke neraka gmn hahaha
ah main kesana ah
makasih infonya bosss
@ Holy :
yang di fesbuk itu kan emang tautan ke postingan ini
@ Ulul :
hahaha…iya, nanti kapan-kapan maen ke Coban Rondo skalian minta bunga di kebun eyangnya ulul
@ berekejaran :
klo ikut naek motormu nyasar ndak, lih?
@ kang suwung :
monggo kang, mumpung skarang lagi ditugaskan disana, ben ora stress
seru kayaknya ya…. semoga kapan2 gw ada kesempatan maen ke sana
kapan ke manado ya … oya di malang juga ada air terjun kayak gitu (he3,promo)
kayax seru bnget dech…..???
manado gityuuu loch….
woyyyy,keyen abissss…
boleh mo iko….
gillllla……………..
wah…itu desa tempat kelaihanQu…
kangen sama Air terjun Tapahan Telu….