Tadi pagi, saat saya akan berangkat ke kantor, saya menemukan suasana yang berbeda di kost saya. Di depan rumah ramai bagi-bagi kaos, stiker dan bendera. Saya agak sebel karena motor saya jadi susah keluar gara-gara banyak orang. Tapi apa mau dikata, namanya juga lagi ada pesta.
Ada yang berkata, dengan nada mempengaruhi : “Jangan pilih partai X, partai X itu arogan, isinya preman semua, pilih aja partai Y, partai yang santun.”
Tapi yang saya saksikan sendiri hari minggu lalu saat ke Bandung, kemarin dan hari ini yang juga saya lihat sendiri iring-iringan konvoi simpatisan parpol yang menuju ke senayan, ah mereka sama saja, cuma beda atribut, kelakuan di jalanan sama saja, tak ada yang santun. Orang kalau sudah di jalanan, berada di dalam kelompok, sudah merasa jagoan, jalanan dianggap hanya untuknya. Yang lainnya kalau mau selamat ya minggir atau mau digebukin rame-rame? Polisi lalu lintas tampak mati kutu. Segala macam pelanggaran lalu lintas yang jelas terlihat pun dibiarkan saja. Seakan-akan mereka memaklumi pelanggaran-pelanggaran itu. Ya namanya juga lagi pesta, wajarlah kalau terjadi kegilaan sesekali. Yang saya lihat disini hanya satu, setiap partai peserta pemilu ingin show-off, menunjukkan kepada dunia, ini loh, simpatisan partaiku, lebih banyak kan daripada partaimu.
Berkumpul di lapangan, mengundang penyanyi dangdut yang aduhai, mengajak simpatisan untuk joget bersama. Lalu apa visi dan misi parpol tersebut didengar? Ah, peduli amat, visi dan misinya sama aja, yang penting joget coy. Dan sekali lagi, kita harus maklum, namanya juga pesta yang diadakan 5 tahun sekali, ya tidak apa-apa donk menghibur warga yang selama ini sudah hidup susah dengan mengajaknya joget bersama, beuh.
Kemeriahan pesta demokrasi ini ngalah-ngalahin kemeriahan perayaan hari kemerdekaan, lihat saja di gang-gang maupun jalanan di sekitar rumah kita, dipenuhi bendera, poster, spanduk, baliho, dan apalah namanya itu. Kost saya sendiri sekarang lebih mirip posko parpol. Lha pati mau bagaimana lagi, saya pun harus maklum, memaksakan diri untuk menganggap ini adalah hal yang wajar, wong namanya pesta, mas, ya wajarlah kalau banyak dipasangi hiasan disana-sini, biar meriah gitu.
Hal semacam ini yang membuat saya sama sekali tidak bersimpati dengan parpol mana pun, saya lebih memilih untuk tidak ikut berpesta daripada saya nanti ikutan lepas kendali.




Turut berbagi bersama beberapa warga 
