Pemandangan anak jalanan di perempatan lampu merah mungkin sudah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah di ibukota negeri ini. Dan mereka pun menjadikan jalanan sebagai arena bermain sekaligus untuk mencoba mengetuk rasa iba para pengguna jalan. Tanpa peduli itu siang, ataupun malam.
Semalam, dalam perjalanan pulang, di sebuah perempatan lampu merah saya melihat ada anak jalanan, seorang laki-laki kecil yang duduk di tepi trotoar, sendirian, beberapa kali dia mengusap wajahnya, tampaknya dia sedang menangis. Saya tak tahu pasti kenapa dia menangis, mungkin karena dimarahi orangtuanya, mungkin juga telah dijahati oleh sesama anak jalanan.

saya hanya bisa memandanginya dari kejauhan, dan akhirnya saya pun harus meneruskan perjalanan saya ketika lampu berubah berwarna hijau. Ibukota ini memang kejam, dia telah membuat seorang jagoan menangis sendirian di jalanan. Tanpa seorang pun menghampirinya, termasuk saya, maafkan.
gambar diambil dari sini



Turut berbagi bersama beberapa warga 

Muungkin sudah tak ada pilihan bagi mereka untuk keluar dari kekejaman tersebut, hanya kita yang bisa mengubahnya…
Gek
17 Mar 09 at 2:44 pm
pak heri, coba deh baca ini http://kalimocode.blogspot.com/2009/03/berkas-lama.html
….
nadya
17 Mar 09 at 7:25 pm
wow…
Miris rasanya kalo kita melihat tapi ngga bisa melakukan apa apa
Raffaell
18 Mar 09 at 10:37 am
that’s the point isn’t?
anak jalanan keknya sering bikin kita merasakan dilema besar apalagi dikampus beterbaran makhluk2 macam itu…
di satu sisi aku berpikir : anak kecil tak seharusnya punya sikap mental meminta, mau jadi apa mereka kalo sikap mentalnya menggantungkan diri pada orang lain..
tapi disisi lain, kita tak bisa juga menutup mata akan kenyataaan bahwa kehidupan tak selalu bersikap manis pada jiwa jiwa tak berdosa itu..
bingung…
HoLyDee
18 Mar 09 at 4:20 pm
T.T
Dee,waktu itu baca di blognya sapa ya lupa. jadi dia itu nggak ngasih duit ke anak-anak itu, tapi ngasih makanan. makanannya berupa setangkup roti tawar dengan selai kacang.
diah
18 Mar 09 at 5:21 pm
aaah, sediiiiiiihhh
venus
20 Mar 09 at 10:28 pm
yaaahhhh,,,,,,
begitulahhhhh,,,
sudah tradisi turun-temurun.
rahman
22 Mar 09 at 4:57 pm
ah iya, aku juga pernah baca. katanya daripada ngasih duit, kita dianjurkan ngasih makanan aja. soalnya menurut rumor beredar *halah* duit yang diterima pengamen ato peminta itu blom tentu buat mereka. atau, kalaupun itu masuk kantong, takutnya malah dipake wat minum
tapi tetep ya yang namanya berbuat baik itu ga bole berburuk sangka *lah aku ni ngapain
*
dyra
24 Mar 09 at 1:09 pm
Contoh kecil dari sisi lain hingar bingarnya Jakarta. Setiap manusia lahir membawa rizki nya masing-masing, sambil mengumpulkan rizki lain yang terserak di langit dan di bumi, termasuk yang dititipkan kepada orang lain. Selagi mampu, bantulah ..
kopisusu
31 Mar 09 at 9:08 am