
Hari ini merupakan salah satu hari dimana masa depan anak bangsa ditentukan. Ujian Nasional, atau yang pada masa saya dulu dikenal dengan nama ebtanas. Hanya dalam 5 hari, saudara-saudara, dari hari ini, tanggal 20 April sampai dengan 24 April 2009. Adik saya salah seorang peserta yang sedang ikut berjuang dalam ujian nasional kali ini.
Konon katanya, untuk meningkatkan mutu pendidikan, maka dinaikkanlah standar nilai kelulusan siswa. Di tahun 2007, nilai minimal kelulusan adalah 5,00, di tahun 2008, nilai minimal kelulusan adalah 5,25, sementara di tahun ini (2009) nilai minimal kelulusan adalah 5,50. Jadi, kira-kira di tahun 2027 nanti, seorang siswa baru bisa dinyatakan lulus kalau nilainya 10,00. Itu jika diasumsikan bahwa setiap tahun standar nilai kelulusan dinaikkan sebesar 0,25.
Saya pribadi kok tidak sreg dengan ukuran nilai ini sebagai tolok ukur tinggi rendahnya mutu pendidikan. Masih saja angka-angka semacam itu yang dikejar. Angka-angka yang bagi saya tidak dapat mempresentasikan hasil perjuangan selama 3 tahun di bangku sekolah. Karena semakin tingginya nilai standar kelulusan, maka tak jarang siswa pun menghalalkan segala cara untuk mengejar nilai. Di lain sisi, sekarang ada semacam kebanggaan bila sekolah bisa berhasil meluluskan 100% siswanya. Hal itu akan mengangkat nama baik sekolah beserta para staf pengajarnya. Sekolah jadi seperti saling berlomba untuk membuat siswanya lulus. Banyak cara yang dilakukan, dari dengan cara menjejali siswa dengan latihan soal-soal ujian nasional sampai dengan trik-trik yang bagi saya terdengar konyol dan kotor. Misal, memberi tahu cara-cara mencontek yang jitu supaya tidak tertangkap pengawas, atau bahkan ada katanya bisa memberitahukan kunci jawaban ujian. Semoga saja hal ini tidak benar-benar terjadi. Disini jelas sekali kalau siswa cuma dijadikan alat untuk mendapatkan “nama” bagi sekolahnya. Menyedihkan, generasi muda yang diharapkan menjadi pemimpin di masa depan diajari cara-cara licik seperti itu oleh gurunya.
Sejak kecil kita telah dibiasakan untuk lebih menyukai angka-angka statistik, grafik-grafik yang menarik, kebanggaan semu.
Selamat menempuh ujian untuk adik-adik SMU dan sederajat, semoga sakses


weh jadi pengamat dunia pendidikan sekarang
asyik dapat pertamax
iya… saya juga lg pusing mikirin standard IPK.. padahal saya tahu yg IPKnya tinggi belum tentu punya kompetensi.. lha wong pas ujian pada nyontek..
heheh
eh, masih ada toh, Ujian Nasional?
Haha, kebanggan semu. Welldone pak Her!
setuju pak!!! kayaknya semua anak indonesia itu harus menguasai semua ilmu yang diberikan di sekolah. mana mata pelajaran banyak gituh.
trus kemarin baca di status facebook temen, kalo adekku minta pinjem hape wat nyontekin temen”nya *ade temenku itu salah satu kontributor jawaban* dan itu dengan perlindungan guru sekolah dimana si adek bersekolah.
miris ga sih? apa gunanya ujian dan standar kelulusan kalo main belakang.
*berasa curhat*
yang perlu ditinjau ulang itu sistemnya
apa sikap para peserta dan para suporternya ya
(tulisanku pendek kan kali ini
)
denger-denger konon katanya malah ada bupati yang memotivasi (baca : mengancam) kepala sekolah bahwa sekolah yang anak didiknya tidak lulus 100%, maka jabatan kepala sekolahnya akan dicopot.
ya daripada malu karena dicopot jabatannya kan mending mengupayakan segala cara demi kelulusan siswanya, lagian kalo smuanya lulus kan sekolah otomatis mendapat “nama baik” yang tentunya akan menambah nilai jual/gengsi sekolah tersebut.
kasian…kasian….kapan ya sebuah prestasi tidak lagi hanya diukur dari angka-angka?
tidak bisa membayangkan jika dulu saya hidup di kurikulum sekarang
tiap tahun terjadi, ada masalah, kenapa ga dievaluasi sama diknas dan masih aja diterusin ya..
perasaan jaman aku dulu ga seribut ini..
semoga adik-adik itu lulus semua, aamiin… terutama dek shireen sungkar hahaha…
artikelnya bagus, . . .mampir ke pondokku yah kapan-kapan. . .