May 27, 2009 9

oto bemo

By in catatan hari ini

bemo

oto bemo – bemo oto
beroda tiga – tiga beroda
berhenti tepat – tepat berhenti
di tengah-tengah kota – kota di tengah-tengah
panggil nona – nona panggil
naik segera – segera naik
nona bilang – bilang nona
tidak punya uang – uang tidak punya
jalan kaki saja – jalan-jalan saja

Dulu pertama kali mengenal lagu ini saat saya masih duduk di bangku SMP, ketika saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Biasanya dinyanyikan secara bergantian, seperti saling berbalasan.

Bemo. Hmmm….nama bemo juga mengingatkan saya pada salah seorang pentolan Warkop DKI, siapa lagi kalau bukan alm. Dono, yang di filmnya dulu sering diolok-olok berwajah seperti bemo atau hanoman.

Bemo. Angkutan umum yang satu ini juga memiliki kenangan tersendiri bagi saya. Dulu, kendaraan roda tiga yang unik ini pernah ada di Denpasar. Sewaktu masih kecil saya senang sekali jika diajak naik bemo. Wujud dan suaranya khas sekali. Dan jika diajak naik bemo maka saya akan memilih untuk duduk di bagian paling ujung belakang, di dekat tempat naik-turunnya penumpang. Kenapa? Karena dari situ saya bisa melihat bemo-bemo lain yang melaju di belakang bemo yang saya tumpangi, seperti sedang balapan mengejar bemo yang saya tumpangi. Dan itu bisa membuat saya terpingkal-pingkal saat itu. Kalau diingat-ingat lagi alasan yang membuat saya terpingkal-pingkal itu kok tidaklah lucu, tapi ya heran juga, waktu itu saya betul-betul tertawa geli melihatnya. Saya lupa tahun berapa tepatnya bemo roda tiga itu dihapuskan dari Denpasar.

Dan sekarang, di Jakarta, ternyata saya masih bisa menemukan kendaraan unik ini. Meski keberadaannya sudah mulai tergusur, hanya ada di lokasi-lokasi tertentu saja, saat ini sih seingat saya cuma ada di daerah Mangga Besar dan Bendungan Hilir. Di sebarang jalan kantor saya ada pangkalannya (foto di atas diambil dari situ). Sesekali saya masih menumpang bemo untuk ke arah pasar Benhil. Sedikit-sedikit bernostalgia mengingat masa kecil saya, hehehehe…. Ongkosnya murah, cukup 2.500 perak. Tapi saya tak bisa menemukan kelucuan itu lagi meski saya sudah duduk di belakang sambil melihat bemo-bemo yang ada di belakang bemo yang saya tumpangi. Dan suaranya pun tidak lagi terdengar unik, karena tersaingi suara bajaj.  Sulit membedakan suara bajaj dan bemo.

Bemo…bemo, nasibnya makin tersingkir, dipinggirkan, penumpang pun makin jarang, dan akhirnya hilang, seperti kelucuan yang semasa kecil saya rasakan.

Tags: , , , ,

9 Responses to “oto bemo”

  1. suwung says:

    suerrr baru kali ini liat liriknya lagunya belom pernah denger

  2. wahyoe says:

    TUH BEMONYA SI MANDRA YACH :D

  3. nadya says:

    wah belum pernah naik bemo, dan ga pengen juga sih hehehe :-P

  4. heri says:

    @ suwung :
    apa mau denger saya menyanyikan lagu itu? ah jangan deh, suara saya nanti buat pilpres aja, hahahaha….

    @ wahyoe :
    kalo punya si mandra mah oplet namanya

    @ nadya :
    wah, perlu dicoba sekali-sekali, keburu bemo dihilangkan dari muka bumi ini loh

  5. diah says:

    aku kayaknya baru dua kali naik bemo ini. dari karet ke tanah abang. enakan naik taksi ya hahaha

  6. mrflow says:

    sama kayak suwung, nggak pernah tau lagunya…
    mungkin lagunya cuma diajarkan di diklat guru di sekitar denpasar kali ya…

  7. ndutyke says:

    seumur2 belom pernah naik bemo roda 3. di surabaya, oplet/angkot/ mikrolet juga disebut sebagai BEMO. tp yg kami punya ber-roda 4. mobilnya pun tidak se ‘vintage’ bemo roda 3 yg kyk di foto. mobil yg dipake buat bemonya orang surabaya ya suzuki carry. 3000 rupiah sekali jalan., jauh- dekat tarif sama saja.

  8. Rias says:

    Saya pernah lht bahkan dah lama ada 10 thn x sampai skrang tp lom pernah naik enak x kyk naik bajai.

  9. nurul says:

    lagu ini waktu saya ikut KMD gratis di kabupaten.
    denger lagu kaget sama ngeri.
    jarang lagu kayak gini.
    lagu ini cocok untuk penggalang dan penegak.
    naik bemo …… ??????
    pernah waktu dari kamhir sampai senayan

Leave a Reply