![]() |
| From clingakclinguk |
Akhir-akhir ini, melihat iklan di tivi, di koran, di spanduk-spanduk parpol, salah satu peserta pilpres melemparkan wacana mengenai pemilihan satu putaran. Syarat pilpres 1 putaran itu berat, Syaratnya adalah apabila terdapat satu pasangan calon harus memperoleh lebih dari 50 persen suara nasional dan terdistribusi 20 persen setidaknya di 50 persen provinsi barulah pasangan capres dan cawapres itu dikatakan menang.
Tapi, kalaupun benar hal itu bisa terjadi, ya itu tak jadi soal, asal pilpresnya memang dilaksanakan dengan jujur dan adil. Jangan lantaran alasan rakyat akan lebih cepat terurus, atau menghemat biaya yang dikeluarkan untuk pemilihan presiden. Biarkan rakyat memilih karena suka dan percaya dengan program anda. So, mau pilpres-nya satu putaran, dua putaran,terserah asal jangan berputar-putar aja alias njelimet lantaran ndak ada yang ndak mau terima kekalahan atau ndak mau ngalah. Kemarin juga sempet baca spanduk bertuliskan : buat milih pemimpin negara kok coba-coba? Ini kampanye pilpres atau iklan minyak kayu putih sih?
Pemaparan program-program dari setiap kontestan pilpres masih sangatlah kurang. Yang ada cuma perang kata-kata dalam iklan. Debat pun masih banyak menggunakan bahasa-bahasa normatif. Yang sedikit-sedikit mengambil potongan kalimat dari sila-sila Pancasila, dari Pembukaan UUD 1945, ataupun dari pasal-pasalnya. Kami sudah mendapatkan itu semua di sekolah pak, bu, yang kami ingin tahu bagaimana program nyata anda untuk semua lapisan masyarakat, ndak cuma wong cilik (cuma lantaran kelompok ini mayoritas), tapi wong menengah dan wong gede juga. Dan jangan pula semua dikatakan sebagai prioritas, misal saat berkunjung ke desa-desa yang banyak petani, ngomongnya pertanian akan diprioritaskan, lalu di lain kesempatan saat diwawancarai mengenai sistem persenjataan TNI, menjawab bahwa hal itu adalah prioritas anda. Pindah, berkunjung ke pesisir pantai yang banyak nelayan, maka disana pula anda mengatakan bahwa keperluan untuk melaut bagi nelayan akan diprioritaskan, lalu yang benar-benar jadi prioritas anda yang mana?



duh nyoblos nggak ya??
dilematis
Yang penting Lanjutkan!
ga tau ya.. kok yang kejadian sering malahan saling sindir, saling klaim, mana yang menang yang lain ngikutttt… jadi meragukan niat tulusnya.. belum nemu yang berani.. banyakan kayyaknya masih ngutamain golongan masing2
@ mrflow :
emang terdaftar, fri? lagian skarang udh ndak jamannya nyoblos fri, nyontreng, bukan nyomot loh ya, apalagi nyopet
@ ale :
wah, kampanye, mas, hahahaha…silakan dilanjutkan asal wong cilik diutamakan, lebih cepat lebih baik toh? (hayah)
@ erikson :
sepertinya memang baru sampe situ tingkat kedewasaan berpolitik kita (sok dewasa)
gak tau dah her bingung milih yang mana…semua kayaknya ngasik janji2 yang indah..gak ada perbedaan yang signifikan, n kesannya kampanye disini utamakan masyrakat yang ini..huhuhu..angin surga..golput juga nih aku
siapun presidennya, minumannya tetap… air……..
hehehe udin gemana seh
tulisan2 pak heri tuh aku identikkan dengan “mengena”, ngga takut-takut (kalo istilah basa jawa: tanpa tedeng aling-aling). yang aku rasakan memang pak heri tuh paling nge-soul seperti ini ….
bravo!
nb: yoa, karena aku cuma jadi penonton, ga ikut terlibat dengan para peserta pemilu, kok yang aku rasa hidup ini makin aneh n menggelikan (n absurd) aja ….
@ nanta : hahaha…lagian mana ada ngasih janji yg jelek2? mana ada yang menghembuskan angin neraka, ta? katanya sih sebaiknya jangan golput
@ udin : itu artinya ndak banyak perubahan yang dirasakan ya, din?
@ nadya : hahahaha….ngesoul sepatu, nad? ini adalah salah satu topik yang menggemaskan, dan kalo ndak ditulis malah rasanya nyantol terus di pikiran
aneh, menggelikan, absurb, dan memuakkan sebetulnya