
Pastinya sekarang sudah pada mulai sibuk berkemas-kemas, pilah-pilih baju mana yang mau dibawa dan dipakai untuk berlebaran di kampung nanti. Sibuk mengatur posisi barang bawaan di dalam ransel supaya bisa muat banyak. Atau malah sudah dalam perjalanan mudik ke kampung halaman.
Saya ndak tau sejak kapan budaya mudik ini dimulai, apalagi siapa pelopornya.
Saya ndak begitu ngerti kenapa orang-orang pada rela tiap tahun “dikerjain” sama PT KAI. Rela berbaris dalam antrian yang amat sangat panjang, bahkan tak jarang harus bermalam di emperan stasiun, demi selembar tiket kereta. Dan itu pun harus dilakukan jauh-jauh hari (30 hari) sebelum hari keberangkatan. Saya juga ndak ngerti kenapa ada juga yang nekad pulang ke kampung halaman menggunakan sepeda motor sekeluarga, padahal jarak tempuhnya jauh, ditambah dengan barang bawaan yang menggantung disana-sini. Yang tak punya ongkos, rela menggadaikan barang berharganya dengan harapan kelak dapat menebusnya kembali. Mudik, oh mudik. Kenapa semua orang seakan-akan rela berbuat apapun juga untuk mudik? Bahkan saya masih ingat, bapak saya pernah menitikkan air mata saat mendengarkan takbir, akhirnya kami sekeluarga pun langsung mudik sore harinya di hari pertama lebaran.
Saya masih tidak begitu paham kenapa lebaran harus mudik, tapi sejak tinggal di Jakarta, saya sudah terkena virus mudik, ada rasa takut ndak bisa mudik di saat lebaran. Saat ini saya masih belum rela berlebaran sendirian tanpa orangtua dan sanak saudara di tengah sepinya ibukota.
Saya pun berusaha untuk mencoba memahami makna dibalik mudik. Kampung halaman tempat dimana kita dilahirkan, tempat orangtua kita dan sanak saudara tinggal memiliki sifat seperti seorang ibu yang penuh kehangatan, itu yang menyebabkan anak (para pemudik) ingin selalu pulang pada pelukan ibu.Sementara Jakarta sama sekali tak punya sifat keibuan, kota ini terlalu kejam, terlalu dingin. Tapi Jakarta ini seperti seorang ayah, di saat anak-anak kehabisan uang sakunya, maka mereka pun akan berlarian mengejar sang ayah, saling berebut meminta uang saku lagi.
Tanpa peduli betapa susahnya perjuangan untuk bisa mudik, meski uang hanya cukup untuk ongkos tiket, pokoknya mudik must go on. Seperti kata pitutur Jawa yang berbunyi : “MANGAN ORA MANGAN ANGGERE KUMPUL.” Yang secara harfiah berarti makan tidak makan asal kumpul. Tidak bisa makan tidaklah masalah, yang penting bisa berkumpul bersama keluarga. Lebih dalam lagi ungkapan ini ingin menegaskan adanya nilai persahabatan, persaudaraan, dan kebersamaan. Dalam berkumpul orang menjadi lebih bermakna manakala diterima oleh sesamanya. Bayangkan orang yang tak punya sahabat atau saudara. Dia akan kesepian, merana, hidupnya kosong, sepi dan dingin. Karena tak menginginkan demikian, maka mudik yang merepotkan pun rela dilakukannya. Karena, di saat berkumpul dengan sanak saudara, dengan para handai taulan, meskipun tak ada makanan yang dapat dimakan bersama, toh masih ada makanan lain yang bisa ‘dimakan’, yaitu kegembiraan, keceriaan,kehangatan di tengah keluarga dan saudara.
Menemukan makna mudik ini kok ya bikin saya jadi tambah pengen cepet-cepet mudik. Padahal tiket belum di tangan, cuti pun masih dalam tahap negosiasi, sementara lebaran sudah sebntar lagi. Apakah kalian juga pengen segera mudik? Ati-ati di jalan ya, biar selamat sampai tujuan, dan salam untuk sanak saudara di kampung halaman.
*tulisan ini juga saya posting di sini*


I really like this!
..
Terutama analoginya
Yeah Jakarta memang seperti ayah, hahaha..
Smg dapat tiket dan cutinya gol pak heri
Chang’e
Iya, anak-anak akan berlarian mengejar sang ayah, minta uang sangu, karena meski pun dingin, sebetulnya sang ayah itu baik hati. Makasih ya atas do’anya, smoga siang ini sdh ada kepastian
Sebentar lagi lebaran tiba, sebuah tradisi khas di negeri ini akan kembali berlangsung. Mudik. Sebuah kata yang sangat dinanti berjuta orang muslim di Indonesia. Sebuah tradisi yang sangat positif dalam menjalin silaturrahim bersama sanak famili.
Namun, yang masih mengganjal ketika musim mudik tiba adalah kesemrawutan yang terjadi di jalan-jalan. Mungkin alangkah bijaknya apabila pemerintah lebih sigap mengantisipasinya. Sehingga pemudik akan merasa aman dan nyaman di perjalanan.
Selamat mudik, semoga selamat sampai tujuan.
Mengembalikan Jati Diri Bangsa
mudik bagi yang punya kampung ya enak, ketemu ma keluarga, suatu tempat dimana bisa merasa benar2 dirindukan
utnuk kemudian pergi lagi berjuang demi orang2 yang dirindukan
Erikson
Punya kampung juga kan? yang ndak punya kampung malah sebetulnya lebih enak, tak perlu bersusah payah untuk bisa berkumpul dengan keluarga, tak perlu waktu khusus hanya untuk menyampaikan rasa rindu. Tapi siapa yang tak punya kampung halaman? Bagi yang terlahir di Jakarta, ya Jakarta inilah kampung halamannya toh?
like this,.. sambil acung acung empat jempol
aku mudik tiap bulan… hehe
temen saya pernah bilang “walaupun mudik itu berdesak-desakkan, tapi suasananya itu beda. kita mudik untuk lebaranan sama keluarga, jd kerasanya enak aja” mungkin maknanya pengorbanan untuk berhari raya sm keluarga kali yah..
btw salam kenal yah!
pengen mudik