Sabtu kemaren (7 November 2009) saya dan kawan-kawan pergi memancing di laut, dengan start dari Teluk Naga, Tangerang. Ini adalah pengalaman pertama bagi saya, dan sebagian besar peserta dalam kegiatan memancing, apalagi di tengah lautan. Memancing di empang saja saya belum pernah. Dan kemarin itupun berangkat mancing tanpa alat pancing, percaya pada pengelola kapal saja. Di kapal telah disediakan senar yang digulung pada potongan bambu, dilengkapi dengan 2 mata kail dan pemberat timah.
Kapal bergerak perlahan, gelombang laut belumlah terasa ketika masih di tepian, tapi makin ke tengah ritme goyangan kapal makin terasa, kapal terus melaju sambil awak kapal sesekali memantau lokasi dan pergerakan ikan menggunakan alat sensor untuk mendeteksi keberadaan ikan menggunakan sebuah alat yang bagi saya itu sangat canggih, namanya fishfinder, dengan alat itu, kita bisa mengetahui jika ada ikan-ikan yang melintas di sekitar kapal kita, pada kedalaman berapa meter, suhu airnya berapa, juga kecepatan arus lautnya, canggih kan alatnya ? Saya masih penasaran dengan cara kerja alat tersebut, entah apa yang terkandung pada ikan-ikan itu sehingga alat sensor itu mampu mendeteksi keberadaannya.
fishfinder
Saat merasa menemukan spot yang diharapkan, mesin kapal pun dimatikan, jangkar dilemparkan, kami pun mulai melemparkan kail-kali kami ke laut. Tak terlalu lama, kail saya disambar ikan, saya ndak tau nama ikannya, cuma seukuran 3 jari, tapi cukup menyenangkan mengingat itu adalah pengalaman pertama saya memancing di laut. Jadi meski cuma dapet ikan kecil, tetep teriak : STRIKE….!!! (layaknya para pemancing profesional di acara mancing mania itu). Kapal terus digoyang-goyang oleh gelombang, membuat para penumpang mulai kliyengan, dan akhirnya beberapa orang pun mengeluarkan isi perutnya (mabok laut).
Menjelang waktu makan siang, nahkoda kapal pun mulai menanak nasi, ya nahkoda kapal merangkap sebagai koki juga, dan segala perawalatan masak pun berada di kabin dekat kemudi kapal. Jadi, sang nahkoda bisa mengarahkan kapal sambil menanak nasi, menggoreng ikan, bahkan mengulek sambal .
nahkoda merangkap koki
Setelah semua masakan matang, kami pun makan bersama, wah ternyata rasanya nikmat sekali. Perut yang dari pagi tidak kemasukan nasi ini, begitu diisi nasi hangat, gurihnya ikan laut yang digoreng, ditambah pedasnya sambal, betul-betul maknyus rasanya.
Karena sudah cukup bosan menunggu ikan menyambar umpan irisan cumi-cumi (sepertinya para peserta tak ada yang benar-benar hobby mancing), akhirnya diputuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, kapal kami menepi di Pulau Lancang Besar, beristirahat, sholat, leyeh-leyeh sambil ketawa-ketiwi karena ternyata banyak peserta cowok yang mabok laut sementara 3 orang cewek yang ikut tetap segar bugar dan ceria. Cerita-cerita, ternyata cewek-cewek itu sebelum berangkat melaut minum obat anti mual yang dipakai ibu-ibu hamil, ada juga yang meminum obat anti mabok. Sementara yang cowok, termasuk saya, tidak minum obat-obatan semacam itu salah satunya mungkin karena merasa kuat, hehehe…
Ya, sebagai sebuah permulaan, pengalaman memancing di lautan itu tentu tetap menyenangkan bagi saya, meski tak banyak ikan yang kami dapat. Anggap saja rekreasi. Terombang-ambing di lautan seharian itu cukup memuaskan dan melelahkan, terbukti dengan badan yang pegal-pegal, bahkan goyangan kapal itu tetap melekat pada saya hingga malam, setelah bangun tidur di keesokan harinya baru rasanya normal kembali





Inget waktu kecil bokap pernah nyewa perahu ke anak krakatau, dengan tujuan motret, bukan mancing. Tapi terkesan di jalan, tukang perahunya pertama nangkep cumi atau apa ya lupa saya, makluk yg ada di permukaan pake jaring. Abis itu dipotong-potong sama dia terus dipake buat umpan mancing
Sepanjang jalan itu bokap sibuk motret, gw mabok laut sambil ngeliatin si tukang perahu asik nangkepin ikan
.
seru ya. mancing dan dimakan langsung.
eniwei, kalo nelayan kita punya fishfinder semua, mungkin ga ada cerita pake pukat harimau atau apa. jadi lestarilah kehidupan laut di bawah sana. ah, tapi alat itu pasti mahal ya?
sadis…, keren skali,
saya jg pengen mancing di laut kapan2
suka gregetan pas nonton acara mancing di tipi tuh,
mantap bos !
ga ngajak2….sombong, cih!
etapi saya ga suka ding mancing di laut, bikin item dan puanasssss…
kalo d sungai atau di tempat pemancingan biasa sih oke
waktu pindah ke jakarta saya bawa pancing lho karena di belakang kost ada empang. tapi nyampe sini ga pernah mancing juga :p jijik. coba mancing ke danau UI yuk, kapan2…
wheee, jadi ini tho, crita mancing nya…asik banget kayaknya ya!
tapi aku gag suka naik kapal laut, palagi yg kecil, goyangannya itu lho, hadoh, sampe darat masie brasa. Dulu pengalaman cuma naek kapal pesiar awani dream itu lho,-yg ke pulau bidadari, pernah denger ya? cuma setaon sih, tu kapal ada di Indo, abis itu bank yg punya ntu kapal bangkrut (modern bank). Segitu aja saya sempet mabok…hih! memalukan ya
)
kalo aku memang dr dulu kurang suka mancing mas, sukannya mbubu itu yang alatnya ditenggelamkan didalam sungai, umpannya ditaruk didalamnya.. ditinggal sebentar nantik kl pelampungnya da gerak2 berarti dibawah dah ada ikan yang masuk, atau kalo enggak njamah langsung ikan2 yang suka istirahat di bawah akar2 pohon tepi sungai, tp kl ini bahaya salah2 malah nantik ular yang kejamah.. hehehhe
saya mau ngomentari komentarnya mbak Yati:
cih katanya takut air, ndak suka laut, takut tenggelam. kemarin saya ajak ke Pulau Seribu ndak mau… eh sekarang malah kecentilan minta ikut :\
nah sekarang komentar buatmu:
kenapa ya setiap hasil fotomu selalu over cahaya berbaur gitu? kamu edit ya? jadinya lebih silau

ipiedĀ“s last blog ..nDalang Boneka Sesame Street Ndak Mudah Lho…