Judulnya sudah cukup provokatif belum ya? Kenapa saya bilang jangan bayar PPN saat makan di restoran, ya karena memang tidak ada aturan yang menyuruh kita bayar PPN ketika makan di restoran
Sekarang katanya era teknologi informasi, infomasi mengalir begitu deras, kalau dulu mungkin kita susah mencari informasi seperti mencari oase di tengah gurun sahara, sekarang sebaliknya serasa berada di Jakarta di musim hujan, kebanjiran terus.
Kecepatan penyebaran berita atau informasi ini seringkali kurang diimbangi dengan keakuratan dari isi beritanya. Baru dapat infomasi sepotong, entah cuma dapat dari twitter atau dari forum, eh sudah disebarluaskan ke mana-mana. Kecepatan perkembangan berita bukan membuat kita menjadi lebih tenang karena selalu update, tetapi malah sebaliknya, menjadi resah.Kita jadi kesulitan untuk menyaring, membedakan mana berita yang benar dan mana yang salah.
Contoh kasus yang masih sangat segar adalah berita tentang PPN (Pajak Pertambahan Nilai) untuk makan restoran. Judulnya sangat provokatif, Jangan Lagi Mau Bayar PPN 10% Saat Makan di Restoran, dimuat di detik Finance, pada hari Kamis, 15/04/2010 jam 12.11 WIB (untuk link ini belakangan ternyata telah diubah oleh penulisnya, dengan judul Update : Aturan PPN Baru Tidak Pengaruhi Pajak Makanan).
Berikut ini adalah print screen dari halaman berita sebelum diedit :
Berita ini cukup mengundang pembaca untuk berkomentar, berikut adalah hasil print screen dari beberapa komentar awal untuk berita di atas :
Pada bagian komentar ini penulis berita meminta maaf dan mengaku bahwa dia menulis berita hanya bermodalkan copas (copy-paste) dari forum sebelah.
Sungguh sangat disayangkan, untuk media sebesar dan setenar detik memuat berita yang isinya seperti ini, hanya memprovokasi, bukan memberikan pencerahan ke pembaca malah sebaliknya bisa menyesatkan pemahaman para pembacanya.
Untuk makanan memang tidak dikenakan PPN, bukan hanya sejak disahkannya UU PPN yang baru, tapi atas makanan di restoran itu dari dulu dikenakan Pajak Pembangunan atau biasa dikenal dengan sebutan Pb1, yang tarifnya sama dengan tarif PPN sebesar 10% namun pengelolaannya dilakukan oleh Pemda, sekarang diatur lebih jelas lagi dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, disini dikenal dengan nama Pajak Restoran. Monggo, silakan diunduh dan dipelajari lagi kedua Undang-Undang itu.

hehehehehehehe…
april mop kali boss
masuk detik tho? saya mbaca di milis tadi pagi. terlalu bersemangat tanpa mbaca aturan dulu
.-= mas stein´s last blog ..Sepadankah yang Diperjuangkan Pembela Makam Mbah Priok? =-.
cuma 10 % ya? tapi kok ada resto-resto yang menetapkan tarif 12,5 % bahkan ada yang 15 % sementara resto lain yang serupa dan selevel cuma mengenakan pajak 10 %. Bisa menjelaskan aturan soal beda pajak ini ada-nya di mana?
*nanya serius*
@balik : sudah kelewat jauh kali boss
@mas stein : iya, awalnya tau di milis, terus kok ya ternyata ada yang makan mentah-mentah dan menjadikannya sebagai berita di media sebesar detik itu, hehehe…
@Chic : untuk wilayah provinsi DKI Jakarta, berdasarkan Perda Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pajak Restoran, tarifnya tunggal yaitu sebesar 10% (sepuluh persen).
heran, akhir2 ini kok makin banyak orang yang “njeplak dulu” baru “mikir” kemudian.
.-= sendja´s last blog ..MAKA SEBUT SAJA AKU PENGECUT =-.
terima kasih untuk enlightenment-nya, pak heri
kadang orang memilih judul yang provokatif buat menarik pembaca ya, tapi bisa bahaya kalo yang baca ngga baca isi tulisannya (yang kadang isinya malah berkebalikan sama judulnya ^^)
.-= chang’e´s last blog ..pagi ini =-.
10% di restoran. kalo di restoran yang adanya di hotel, nambah lagi jadi 21%. bener2 harus mikir dulu memang sebelum bayar pajak *eh
.-= mbakDos´s last blog ..[untitled] =-.
Sebenarnya dari dulu restoran2 itu memang salah kaprah karena selalu mencantumkan PPN bukannya Pb1 di struknya
ada yg bilang, PPN beda sama PPn (dengan huruf ‘n’ kecil). tau deh, ga ngerti soal pajak
tp kan klo kita minta billnya udah ada smua di situ om, njuk pripun?
.-= aprikot´s last blog ..Dalam Bus Kota =-.
Oooaaallaah…detik sering begitu tuh. Apalagi soal pemilihan blog yang ditayangkan di halaman depan detik. Beberapa kali saya menemukan artikel hasil copas.
.-= bukan detikcom´s last blog ..Cuma di Indonesia =-.
nice info gan..:D
@mbakDos : wah di mana itu nemu aturan yang sampe tarifnya jadi 21% ? *malah balik tanya*
@mbok venus : kalau PPN (pake N besar) = Pajak Pertambahan Nilai, kalau PPnBM (dengan n-nya kecil) = Pajak Penjualan atas Barang Mewah
@aprikot : kalau bill-nya sudah disodorin, ya njuk dibayar toh, hehehe…
maksudnya disini saya cuma mau meluruskan bahwa pajak yang ada di bill saat kita makan di restoran itu bukanlah Pajak Pertambahan Nilai (PPN), tapi masuk ke pajak restoran yang pemungutan dan pengelelolaannya dilakukan oleh pemerintah daerah, berbeda dengan PPN yang merupakan pajaka yang bersifat nasional.
@bukan detikcom : itulah, sangat disayangkan kalau kecepatan berita tanpa diimbangi dengan keakuratan dari isi berita tersebut
Heeeeeee… baru tahu…
kalo di kampungku sih yang sering terjadi bukan PPN tapi pek pek an, atau saling menikah dengan tetangganya sendiri.
hehe..
.-= beruangqutub´s last blog ..Tiba – tiba =-.
wah…sebetulnya saya termasuk pembaca detik, klo seperti ini saya jadi kecewa ma detik smoga ga terulang lagi
fiuuuhhh…judulnya emang provokatif bgt hehehehe…
.-= ok´s last blog ..UAN(part2): Kasus… =-.
klopun bener ga ada aturannya pajak makan 10% kayanya susah juga nolaknya soalnya bill yg kita terima sudah dihitung termasuk dgn pajak ^^
salam kenal,smoga bisa bersilaturahmi lebih baik
.-= kutukupret´s last blog ..Kejanggalan Kasus Gayus (markus pajak) =-.
pb1 tapi dikenal gitu PPN namanya biar keren
*piss*
duh peraturan baru mengenai ppn lah,faktur pajak wat diriku pusing tujuh keliling hikzzz
lama gag kesini
soreee mas
diriku menculik nona pelangi mu dlu yaah wkwkwkkw
.-= ranny´s last blog ..Surat Untuk Papah =-.
dan struk,bill itu juga dokumen penggati faktur pajakk
*doooooh*
.-= ranny´s last blog ..Surat Untuk Papah =-.
Betul! sampe2 ada restoran yg diancem2 segala sama tamu, udah berusaha jelasin kalo itu pajak yang berbeda tapi si tamu tetap ‘ngotot”
kalo ada resto/hotel yang menetapkan lebidari 10% biasanya itu untuk servise charge.. besarnya memang beragam. selebihnya dari 10% biasanya diberikan untuk karyawan.
(makanya kalo sudah kena servise charge gak perlu lagi tinggalin uang tip, karena sudah dipaksa kasih tip sama resto/hotel)
mohon jgn cpt tprovokasi dgn brita2 smcm ini yg hny mnimbulkan ksalahan persepsi di masyarakat. & klo ksalahan psepsi udh bkmbang, kita smua jd ga bs bpikir logis