Berdiri di sebuah papan pengumuman, banyak jejeran nama-nama, dengan sedikit rasa harap-harap cemas saya mencari nama saya di kertas-kertas yang ditempelkan pada papan pengumuman itu sambil berdesak-desakan. Dan…ya, ketemu, hahahaha….horeeee….saya lulus. Sampai di situ saya senang. Tapi begitu tahu bahwa saya harus mengikuti pendidikannya di Jakarta saya jadi kaget sekaligus ragu. Saat itu saya cuma tahu Jakarta dari bacaan-bacaan dan juga tayangan televisi. Dan kebetulan saat itu tayangan televisi yang lagi marak adalah tayangan tentang tindak kriminalitas, semacam BUSER dan SERGAP, ya Jakarta tak pernah luput dari pemberitaan tindak kriminalitas. Ada-ada saja, pencurian, pemerkosaan, penodongan, perampokan, pembunuhan, dan sebagainya.
Ini yang bikin saya ngeri untuk memutuskan apakah hasil tes itu saya ambil, atau tetap meneruskan kuliah saya di kota Malang. Tapi berhubung beberapa kawan saya memutuskan untuk mengambilnya, dan lagian adanya jaminan bahwa nanti begitu lulus saya bisa langsung kerja, maka akhirnya saya pun memberanikan diri untuk datang ke Jakarta.
Saya masih ingat betul bagaimana pertama kali saya datang ke ibukota negeri ini. Dari Denpasar saya naik bus ke Jogjakarta, menemui seseorang, beliau adalah saudaranya adik ipar ibu saya. Beliau ini nanti yang akan mengantarkan saya ke Jakarta. Dari Jogjakarta, bersama beliau itu saya diajak naik kereta Senja Utama menuju Jakarta, saya diminta bawa koran bekas yang belakangan baru tahu bahwa koran itu sangatlah berfungsi sebagai alas tidur, karena sepanjang perjalanan dari Jogjakarta ke Jakarta itu saya tidur lesehan di lorong gerbong kereta, dilangkahi berbagai macam orang, menempelkan kuping ke lantai gerbong yang super berisik, toh akhirnya saya pun tetap bisa tertidur. Keesokan harinya, masih pagi, saya sudah tiba di Stasiun Pasar Senen, lalu naik bus Mayasari No. 926 jurusan Ps.Senen ke Blok M. Sepanjang jalan saya takjub melihat jalanan yang begitu padat, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi (maklum, orang kampung baru sampe Jakarta)
. Kesan pertama sepanjang saya di jalan, Jakarta kelihatan megah, tapi juga berantakan.
Itu tadi sedikit kilas balik pertama kali saya menginjakkan kaki di ibukota negeri kita tercinta ini, kurang lebih sekitar 8 tahun yang lalu.
Setelah sekian tahun ternyata kesan pertama saya masih belum berubah, Jakarta makin megah dengan makin banyaknya bermunculan pusat perbelanjaan mewah, apartemen-apartemen, juga gedung-gedung perkantoran, tapi masih juga tetap berantakan lalu lintasnya, pemukiman-pemukiman di perkampungannya. Ya meskipun tentunya perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik juga tentunya ada.
Jadi, selain mencela, mengeluhkan tentang sumpeknya, macetnya, banjirnya, dan segala macam kekacauannya, cobalah jawab pertanyaan ini : apakah kita sudah menjadi warga Jakarta yang baik ? Segala permasalahan yang menjerat ibukota negeri ini tak akan selesai hanya dengan keluhan, celaan, ataupun umpatan. Kita mulai dengan hal-hal kecil, misalnya tidak membuang sampah sembarangan, mematuhi peraturan lalu lintas selama berada di jalanan, itu merupakan bentuk peran aktif yang dapat kita lakukan untuk Jakarta yang lebih baik, lebih tertib dan teratur.
Selamat ulang tahun yang ke-483, Jakarta !!! ![]()


Aw. Couldn’t agree more. Memang lebih mudah ngeluh ini-itu dibandingkan bertindak utk memperbaiki keadaan ya…
Suka mangkel sama orang2 yang selaluuuu ngeluh tentang jakarta. Ya udah pindah aja ke kota lain kalo nyangka hidupmu bisa lebih damai. Hidupku juga lebih damai kalo ndak harus denger keluhanmu kok (devil)
Iya..
Banyak kenangan yg ada di sana..
Kenangan baik, kenangan buruk, kenangan biasa-biasa saja sampai yg tak pantas dikenang.
Met ultah Jakarta
woooogh, kita sehatiii.. postingane podho!
)
. Eh, kita?
Tapi ya begitulah, kalau unuk pendatang kaya kita ini ada banyak yang bisa diceritakan ya
untung saya dulu pendidikannya di Tangerang,…
langkah awal, harusnya jakarta cukup jadi kota perekonomian saja.
kota pemerintahannya pindahin kemana kek….
sama kek brazil yg beribukota di brazilia, tapi kota industrinya di sao paolo
sama kek amrik yg beribukota di washington, tapi pusat ekonominya di new york(karto hadiningrat)