Selepas SMP, saya pernah merasa was-was, takut kalau sampai orangtua mengirimkan saya untuk menuntut ilmu di pondok pesantren. Tempat yang saya anggap sebagai pabrik kyai atau ustadz. Dan saya tak pernah sedikitpun punya cita-cita untuk menjadi ustadz apalagi Kyai. Saya tak sanggup membayangkan hidup bertahun-tahun dalam asrama dengan peraturan yang ketat. Lagipula rasanya kurang pas kalau di depan nama saya ditambahi embel-embel ustadz atau Kyai. Saya bersyukur banget ketika saya dibebaskan oleh orangtua saya untuk menentukan kemana saya ingin melanjutkan pendidikan, dan saya pun memilih masuk SMA.
Lantas apa hubungannya dengan gambar di samping? Read the rest of this entry »



Turut berbagi bersama beberapa warga 
