
oto bemo – bemo oto
beroda tiga – tiga beroda
berhenti tepat – tepat berhenti
di tengah-tengah kota – kota di tengah-tengah
panggil nona – nona panggil
naik segera – segera naik
nona bilang – bilang nona
tidak punya uang – uang tidak punya
jalan kaki saja – jalan-jalan saja
Dulu pertama kali mengenal lagu ini saat saya masih duduk di bangku SMP, ketika saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Biasanya dinyanyikan secara bergantian, seperti saling berbalasan.
Bemo. Hmmm….nama bemo juga mengingatkan saya pada salah seorang pentolan Warkop DKI, siapa lagi kalau bukan alm. Dono, yang di filmnya dulu sering diolok-olok berwajah seperti bemo atau hanoman.
Bemo. Angkutan umum yang satu ini juga memiliki kenangan tersendiri bagi saya. Dulu, kendaraan roda tiga yang unik ini pernah ada di Denpasar. Sewaktu masih kecil saya senang sekali jika diajak naik bemo. Wujud dan suaranya khas sekali. Dan jika diajak naik bemo maka saya akan memilih untuk duduk di bagian paling ujung belakang, di dekat tempat naik-turunnya penumpang. Kenapa? Karena dari situ saya bisa melihat bemo-bemo lain yang melaju di belakang bemo yang saya tumpangi, seperti sedang balapan mengejar bemo yang saya tumpangi. Dan itu bisa membuat saya terpingkal-pingkal saat itu. Kalau diingat-ingat lagi alasan yang membuat saya terpingkal-pingkal itu kok tidaklah lucu, tapi ya heran juga, waktu itu saya betul-betul tertawa geli melihatnya. Saya lupa tahun berapa tepatnya bemo roda tiga itu dihapuskan dari Denpasar.
Dan sekarang, di Jakarta, ternyata saya masih bisa menemukan kendaraan unik ini. Meski keberadaannya sudah mulai tergusur, hanya ada di lokasi-lokasi tertentu saja, saat ini sih seingat saya cuma ada di daerah Mangga Besar dan Bendungan Hilir. Di sebarang jalan kantor saya ada pangkalannya (foto di atas diambil dari situ). Sesekali saya masih menumpang bemo untuk ke arah pasar Benhil. Sedikit-sedikit bernostalgia mengingat masa kecil saya, hehehehe…. Ongkosnya murah, cukup 2.500 perak. Tapi saya tak bisa menemukan kelucuan itu lagi meski saya sudah duduk di belakang sambil melihat bemo-bemo yang ada di belakang bemo yang saya tumpangi. Dan suaranya pun tidak lagi terdengar unik, karena tersaingi suara bajaj. Sulit membedakan suara bajaj dan bemo.
Bemo…bemo, nasibnya makin tersingkir, dipinggirkan, penumpang pun makin jarang, dan akhirnya hilang, seperti kelucuan yang semasa kecil saya rasakan.



Turut berbagi bersama beberapa warga 
