Oh, sungguh sulit untuk menerima pernyataan cinta kepada hujan, sesuatu yang saya pikir tak mungkin terjadi di sini. Saya pikir belumlah dia pernah merasakan hujan di kota ini, terjebak di padatnya jalanan ibukota. Dimana hujan lebih bermakna layaknya sebuah malapetaka daripada sebuah berkah.
Tak ada wangi bau tanah yang tersiram hujan, tapi hanya debu yang mengganggu pernapasan. Bukan riak-riak untuk bercipratan, tapi air bah berwarna coklat yang menjijikkan.
Masihkah kau bisa menikmati hujan di ibukota ini di kala terjebak di jalanan? Basah, dingin yang sedikit demi sedikit menyusup melalui pori-pori kulit kita menusuk tulang, diperparah perut yang mulai melapar.Aku benci terjebak di sini.

Mungkin hanya anak kecil yang menyewakan payung ini yang gembira menyambut hujan, Tuhan tak hanya menurunkan hujan, tapi juga rejeki untuknya, berlarian menghampiri kerumunan, mengembangkan payung pelanginya untuk tubuh-tubuh yang takut kebasahan. Selamat ya, anak kecil, ini waktunya berpesta, bermain hujan.
Dan tentunya, selamat datang hujan. Yah, bagaimanapun, kau tetap selalu bisa menyisipkan romantisme dalam tiap tetesanmu, meski aku tak terlalu menyukai kedatanganmu di kota ini.
Selamat datang, hujan




Turut berbagi bersama beberapa warga 
