clingakclinguk™

melihat, mendengar, dan berbagi

Archive for the ‘jalan-jalan’ tag

hanyut di Cicatih

21 comments

Beberapa kali muncul obrolan soal rafting di antara rekan-rekan sekantor. Dan menjelang akhir tahun 2008, bapak Kasubag umum menawari saya untuk ikutan rafting yang akan diadakan bareng temen-temen kantor. Saya langsung mengiyakannya meski lokasinya belumlah ditentukan. Akhirnya di minggu pertama tahun 2009 diputuskan Sabtu, tanggal 10 Januari 2009  akan diadakan acara rafting di sungai Cicatih, Sukabumi, Jawa Barat.

Hari Jum’at malam penyakit saya pun kumat. Penyakit itu adalah over- anthusiastic. Saking tak sabarnya menunggu esok, saya susah tidur. Penyakit yang biasa kambuh saat saya akan bepergian jauh, apalagi kalau tempat yang dituju belum pernah dikunjungi *norak* Akhirnya lewat tengah malam baru bisa tertidur setelah titip pesan kepada beberapa orang untuk membangunkan saya di saat Subuh.

Sabtu, dini hari, setelah siap-siap langsung berangkat menuju meeting point (baca : kantor), meski hujan dan hawa dingin masih mendera. Jam 6 pagi, setelah semua peserta berkumpul, kami pun berangkat menuju lokasi bermodalkan peta ala kadarnya dari panitia. Karena masih pagi, perjalanan sampai Ciawi terasa lancar, setelah itu agak tersendat lantaran banyaknya angkot yang berseliweran. Akhirnya jam 9-an pagi, kami sampai di posnya Riam Jeram, salah satu penyelenggara rafting di sungai Cicatih. Dari sana kami masih harus naik angkot lagi untuk menuju starting point kegiatan rafting kami. Aslinya untuk kesana kami akan diangkut dengan mobil bak terbuka, namun karena hujan, maka diganti dengan angkot. Tak ingin membuang waktu banyak, kami langsung kumpul, absensi (peserta total 42 orang), menitipkan barang-barang berharga, ngemil pisang goreng, mengenakan life jacket dan helm, lalu langsung beraksi di depan kamera, taraaa…..

foto-bareng

Dari peserta sebanyak 42 orang itu dibagi menjadi 7 kelompok, dan saya mendapat kelompok pertama. Beranggotakan laki-laki semua. Dalam benak saya, ah pasti kurang seru, tak ada teriakan perempuan yang nyaring nan melengking. Sampai di tepi sungai, langsung naik di atas perahu masing-masing, mendapat brieving singkat dari Kang Budi, sang pemandu kelompok kami. Katanya yang terpenting itu kekompakan dalam tim, dan selalu ikuti aba-aba pemandu.

jeram

Semua sudah siap pada posisi masing-masing, tim rescue pun sudah meluncur terlebih dahulu untuk mengecek jalur sekaligus mencicipi derasnya arus saat itu. Aman. Maka kelompok kami, sebagai kelompok pertama berangkat duluan. Kata Kang Budi, aliran sungai Cicatih ini berasal dari dua sumber, yaitu Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango, rafting kali ini merupakan adventure trip yang akan menempuh jarak sejauh 12 Km, dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Di sepanjang waktu itu kami akan menemui sekitar 20 riam. Penamaan riam-riam itu cukup unik, ada riam kuku patah, riam ngehé, riam jontor, dan masih banyak lagi. Perlu diketahui, tingkat kesulitan sungai Cicatih ini adalah kelas/grade III – IV. Kelas yang cukup sulit bagi pemula, apalagi saat itu arus sedang deras-derasnya karena di daerah sana semalaman diguyur hujan. Debit airnya pun 2 kali lipat bila dibandingkan dengan kondisi normal.

ceria

Tawa riang, teriakan antara rasa takut dan excited pun bermunculan saat mengarungi riam-riam di aliran air sungai bak capucinno itu. Seru, betul-betul seru. Ini lebih dikarenakan derasnya arus sungai, karena pemandangan di sekitar sungai di dominasi persawahan, iya, tidak se-eksotik pemandangan di sungai Pekalen – Probolinggo (Jawa Timur) dengan tebing-tebing tinggi di sisi kanan – kiri sungai. Dihiasi gemericik air yang mengalir dari tebing-tebingnya, pemandangan sarang kelelawar tentu dengan kelelawarnya yang bergelantungan dan bau kotorannya yang khas. Semua itu tak ada di Cicatih. Tapi ya itu tadi, di Cicatih kali ini saya dapat merasakan rafting bukan hanya sebagai rekreasi, tapi lebih ke rasa berpetualang.

terjang
oleng

Dalam ber-rafting-ria tentunya ada perahu yang terbalik. Dari 7 perahu, 2 diantaranya mengalami hal itu. Dan perahu kelompok saya salah satu korbannya. Entah pada riam ke berapa, perahu karet kami menabrak batu besar dengan dorongan arus yang kencang. Perahu pun sulit dikendalikan. Sisi kanan perahu yang menabrak batu pun terangkat, dan akhirnya terbalik. Tiga orang dapat diselamatkan dengan cepat, sisanya, termasuk saya, terbawa arus.  Saya sempat tertimpa rekan di sebelah kanan saya, lalu tertutupi oleh perahu. Sulit untuk tetap tenang saat berada di dalam air yang keruh dengan tertutup perahu. Pegangan saya hanya dayung. Saya berusaha mempertahankan dayung sebagai alat bantu saat hanyut untuk menghindari bebatuan yang bertebaran. Ternyata di tengah arus yang deras pelampung kurang berfungsi dengan baik, saya tetap berkali-kali ditenggelamkan-diangkat ke permukaan-ditenggelamkan lagi oleh arus itu. Cukup lama tak tertolong, salah seorang anggota tim rescue melemparkan tali, dan saya pun berhasil menangkapnya, tapi sayang, pegangannya putus. Disini saya level kepanikan saya pun bertambah. Doh, gimana kalau tak tertangkap oleh tim rescue. Masih tetap mengandalkan perlengkapan yang ada sembari diaduk-aduk arus Sungai Cicatih, seperti layaknya baju yang diaduk di dalam mesin cuci. Sambil mencuri-cri mengambil nafas saat terangkat, tak jarang air sungai pun ikut masuk ke dalam tubuh saya, baik lewat mulut maupun hidung. Mulai kelelahan, menjaga posisi tubuh agar tetap bisa terlentang menghadap mengikuti arah arus. Dan akhirnya tubuh saya menabrak perahu tim rescue, dan saya pun langsung ditarik ke atas perahu dengan tubuh yang lunglai setelah hanyut terbawa arus sejauh ± 300 meter.  Terkapar sejenak, lalu bangun ikut mendayung ke tepian. Alhamdulillah, saya selamat.

orang-sawah

Karena kondisi arus yang makin deras, dengan peserta rafting yang rata-rata adalah pemula, maka tim rescue pun mengambil keputusan untuk menghentikan rafting untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Agak mengecewakan memang, tapi ya apa boleh buat, daripada celaka. Semua perahu pun menepi, dan kegiatan pun berubah menjadi mengarungi pematang sawah yang sempit dan licin untuk menuju tempat peristirahatan. Beberapa ada yang terpelesat dan akhirnya belepotan lumpur, hihihihi…. Di tempat peristirahatan, telah menunggu seorang bapak-bapak membawa 2 karung kelapa muda dan se-kresek gorengan. Ah…..betapa nikmatnya air kelapa muda itu dibandingkan dengan air sungai berwarna capucinno itu. Setelah cukup beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri sawah dan ladang, melewati perkampungan menuju tempat angkot yang akan menghantarkan kami ke finish point.

lunch

Sampai di finish point, perut makin terasa lapar saat mencium aroma masakan khas Sunda, tanpa basa-basi kami langsung antri untuk ambil jatah makan siang yang telah disediakan penyelenggara. Ada ayam goreng, tahu & tempe goreng, sayur asem, sambal terasi, dan tentunya timun dan dedaunan untuk lalapan. Semua tampak lahap menyantap hidangan yang tersdia. Laparrrr……..

flyingfox

Selesai makan siang, ada yang langsung berbilas, ada yang masih duduk-duduk santai menikmati semilir angin sambil melihat pemandangan sekitarnya. Saya dan beberapa orang kawan ikut antri flying fox. Ya, wahana flying fox ini sudah satu paket dengan kegiatan rafting yang kami ikuti, jadi tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk ikut bergelayutan.Tidak terlalu tinggi dan jalurnya pun tak panjang, tapi cukup menghibur kami yang tidak berhasil menyelesaikan rafting. Satu per satu dari kami meluncur.

hate-rafting

Lalu dilanjutkan dengan acara ramah-tamah, bagi-bagi doorprize dan souvenir sambil menyaksikan slide show foto-foto rafting kami yang di tampilkan oleh pihak penyelenggara. Di sela-sela acara ada yang bilang kalau salah satu penyebab perahu kelompok kami terbalik adalah karena ada salah seorang anggotanya mengenakan kaos bertuliskan I Hate Rafting. Itu yang membuat penunggu sungainya marah dan akhirnya membalikkan perahu kami, hehehehehe….

Selepas Ashar, kami pun diangkut ke lokasi awal dimana mobil-mobil kami diparkir dengan mempergunakan angkot (lagi).  Iya, memang agak kebanyakan juga naik angkotnya, hehehehe…..

sebelum bubaran

Inilah sisa-sisa kesegaran kami, setelah berfoto semuanya tampak kelelahan. Sial bagi yang bertugas nyetir mobil sampai di Jakarta karena penderitaannya belumlah berakhir, hahahahaha…. Dalam satu mobil yang saya tumpangi, hanya Mbak Hanna yang tercatat orang Sunda, itupun Bandung,tak ada yang paham Sukabumi. Tanpa ada yang tahu arah jalan balik ke Jakarta, dan hanya bermodalkan peta ala kadarnya. Dengan pedenya sang supir menyetir. Kami semua melihat kanan-kiri, kok sepertinya beda dengan jalanan yang dilalui saat berangkat, jalanannya lebih halus tak berlubang. Sesekali melihat patok kilometer, Pelabuhan Ratu 18 km, lalu menemukan Pelabhuan Ratu 16 km, lho kok makin dekat? Akhirnya salah seorang dari kami turun dan bertanya ke penduduk yang sedang berada di tepi jalan. Ah, benar saja, mobil kami salah belok *doh* Kami pun putar haluan, kembali ke arah sebaliknya. Malu, masak bawa mobil berplat B tapi nanya ke orang Sukabumi arah Jakarta kemana, huahahahaha…..Gara-gara nyasar akhirnya kami pun harus rela menikmati kemacetan di daerah Cibadak. Ujung-ujungnya baru sampai di kantor lagi jam 9 malam.

Seru? seru banget donk. Capek? tentu saja. Kapok rafting? oh tentu tidak, masih pengen lagi, hihihihi…

Oh ya, selama ini saya tahunya Citatih, tapi ternyata itu salah, yang betul Cicatih, ada yang tahu arti dari kata Cicatih ini kah? Selain itu, sambil ngetik postingan ini tadi saya menemukan FAJI, Federasi Arung Jeram Indonesia. Dari sini kita bisa dapat pengetahuan baru tentang rafting alias arung jeram.

Written by clingakclinguk

January 18th, 2009 at 2:34 pm

temutemu luculucu seruseru

13 comments

Bulan July kemaren adalah bulan yang penuh dengan pertemuan, penuh pengalaman baru juga tentunya, dan jadi banyak punya temen baru. Sungguh bulan yang menyenangkan.

1# 25 July 2008 sekitar abis magrib

Ketemuan dengan eva yang baru datang dari Palu, afri yang juga baru nyampe dari Surabaya, dan pak iq dan kawannya di Gambir dalam rangka persiapan berangkat ke Gunung Gede. Hmmm…Gambir, lagi-lagi menjadi meeting point, jadi inget pas dulu pertama kali ketemuan dengan pak iq juga di Gambir, dengan orang-orang yang sama, saya, eva, pak iq dan kawannya, kecuali afri.

2# 25 July 2008

Ke rumah pak Trio di Kalibata, sebagai meeting point peserta hiking ke Gunung Gede yang berangkat dari Jakarta. Ini untuk pertama kalinya saya kesana, dan untuk pertama kalinya pula bertemu dengan Pak Sigit Kugelfang, Pak Adit, Fita, Mbak Fitri dan si mungil Samira. Dan ternyata disana sudah ada jeng Nutri juga yang kostnya katanya tidak jauh dari rumah pak Trio.

3# 25 July 2008 larut malem

Entah sudah masuk di daerah mana, pokoknya yang di kelilingi kebon teh, disana ketemuan dengan mbak Senja, mbak Sheback,  dan mas Sigit Herlambang, yang ini juga pertemuan untuk pertama kalinya kecuali dengan mbak senja

4# 26 – 27 July 2008

Ini bagian yang paling berkesan buat saya selama di gunung Gede, saat mendaki maupun menuruni Gunung Gede.Setiap berpapasan dengan sesama pendaki selalu (otomatis) saling lempar senyum, bertegur sapa, bahkan menyemangati. Seingat saya tidak ada aturan untuk saling bertegur sapa saat berpapasan, ini betul-betul otomatis, spontanitas.Semua pendaki adalah saudara.

5# 28 July 2008 setelah magrib

Kembali ke Jakarta. Ketemu si Afri lagi, cari penginapan, abis itu bareng ke Plangi (Plaza Semanggi, fri) untuk ketemuan dengan diah nutri, boni, pak iq, ternyata safura juga ikut, dan satu lagi temannya afri, ah saya lupa namanya, maafkan :-) Sambil nunggu saya mencoba minum sari kacang hijau-nya Canadew (bacanya mentah-mentah yah), hmmm…sweger…..Nah kan rencananya mau skalian makan malem, dan Boni punya usul untuk makan di sky dinning. Wew, tempat macem apa itu, seumur-umur tinggal di Jakarta dan berkantor tidak jauh dari Plangi saya belum pernah denger. Ternyata oh ternyata, lokasinya di lantai 10, di puncak gedung. Hmmmm….pemandangannya lumayan bagus, jangan lupa ati-ati bisa bikin masuk angin, mungkin romantis kali ya kalo kesananya berdua, tapi kami kan berbanyak, yang ada malah seruuuu…..hahahahaha….. :-D Sayang sekali langit Jakarta ga pernah biru, jadi bintang-bintang tak bisa menampakkan dirinya kepada kami.

barisan kiri : afri, safura, boni, diah

barisan kanan : temennya afri, eva, saya, pak iq

6# 29 July 2008

Siangnya nemenin eva ke Plangi (lagi-lagi Plangi) untuk ketemuan dengan mbak crusdew, baru pertama kali ketemu sih, eh jangan kira bakal diem-diem, langsung bergossip bow, hahahahaha…..

hayo coba tebak, saya yang mana ?

Malemnya masih nemenin eva ketemuan dengan hanny di warung kopi di deket Djakarta Thearter. Ini juga ketemuan untuk yang pertama kalinya. Langsung ditraktir sama hanny, wah makasih-makasih. Ngobrol ngalor-ngidul seputar blog, lalu ada acara serah terima Olenka, dan foto-foto juga tentunyah :-P Bubaran dari situ, makan malem, lalu nyambung lagi keluyuran ke Kota Tua bareng afri dan pak iq, ngapain lagi kalo bukan foto-foto sebagai menu utamanya. Dan akhirnya kesampaian juga masuk Cafe Batavia, tempatnya remang-remang temaram, sedikit ada kesan romantis mesum, dan toiletnya, wew, kereeeeeeennn….toilet skaligus hall of fame, banyak foto-foto dalam pigura yang di gantung di dinding. Agak serem juga kalo sambil ****** mandangin foto-foto itu, serasa kita yang lagi dipandangin, hehehehehe….tapi sekali lagi toiletnya keren, toilet yang paling keren daripada toilet-toilet yang pernah saya masuki. Pulang dari Kota Tua, masih belum puas, naik taksi minta turun di Jalan Jaksa, jalan kaki menyusuri jalanan itu menuju ke hotel.

7# 30 July 2008 siang menjelang sore

Lagi-lagi janjian ketemuan di Plangi. Kali ini ketemuan dengan dyra dan udinnya.  Ternyata mereka ga cuma berdua, mereka berombongan, eh ada boni lagi ikutan nyempil diantara mereka, hehehehe…. Eva dan mereka asik ngobrol di J.Co, sementara saya masih ada perlu ke Gramed, balik dari situ ikut ngobrol-ngobrol sedikit, lalu bubaran. Masih ada rencana yang belum kesampaian, nonton The Dark Knight, hehehehe….saya amat sangat penasaran dengan tokoh Jokernya. Abis ketemuan itu tidaklah langsung nonton, melainkan balik ke kost saya dulu, ambil sesuatu, trus baru deh ke Djakarta Theater XXI, naik TransCab seperti yang pernah diceritain sama jeng diah disini. Akhirnya kesampaian semua, dapet ngerasain naik TransCab dan nonton Batman, ah senangnya. Dan ga rugi penasaran sama Si Joker, kereeeeeeennn…..penjahat yang sadis, dan bikin saya agak merinding kalau-kalau ada penjahat seperti dia betulan, hiiiyyy…..tapi sayang ya Haeth Ledger meninggal begitu cepat, siapa ya kira-kira penggantinya kalau seandainya Batman harus berhadapan dengan Joker lagi?

ah koneksi lagi lemot nih, mau pajang foto jadi susah oke akhirnya berhasil juga ngupload fotonya, cuma 2, yang lainnya tak terdokumentasikan dengan baik :-D

Written by clingakclinguk

August 4th, 2008 at 2:26 am

Wiken yang melelahkan

2 comments

Wiken kemaren adalah wiken yang paling melelahkan, apalagi buat bapak dan adik saya yang sedang berlibur ke sini. Acara ngubek-ngubek Jakarta dimulai hari Jum’at setelah saya pulang kantor. Abis magrib langsung menuju ke PRJ di Kemayoran dengan naik bajaj. Hahahaha…adik saya ketawa-ketawa sepanjang perjalanan lantaran itu adalah pengalaman pertamanya naik bajaj. Masuk PRJ, muter-muter sekitar 2 jam, tanpa beli apa-apa, cuma liat-liat doank. Udah puas dengan hiruk-pikuk PRJ, pengen nyoba makanan khas betawi, kerak telor. Seumur-umur tinggal di Jakarta baru kali ini nyoba beli kerak telor. Langsung aja pesen 1 tanpa tanya harga. Yaaa…saya pikir pastinya ga mahal-mahal amat lah, wong cuma berbahan beras, sebutir telur bebek, serundeng, dan bawang goreng. Dan ternyata setelah jadi, saya tanya : “Berapa, bang?” Si abang tukang kerak telornya menjawab tanpa ragu : “Lima belas rebu.” Buset dah, nasi goreng kambing kebon sirih aja sekarang 18.000, masak kerak telor yang kayak bgitu doank harganya 15.000? Tapi ya sudahlah, males debat sama penjualnya, anggep aja itu emang rejekinya dia. Sepertinya untuk PRJ taon depan, pemerintah DKI Jakarta perlu membuat standarisasi harga kerak telor deh, biar penjual ga sembarangan pasang harga. Lalu dengan para pak ogah berompi tukang parkir, ini nih yang nyebelin banget, udah sengaja jalan keluar agak jauh dari PRJ, eh bgitu kami naik taksi, dianya ngeliat, trus dimintain uang parkir 1000, padahal parkir aja enggak. Kalo mau malak, ya malak aja bung, ga usah pake kedok jadi tukang parkir.

Dari PRJ langsung meluncur ke Benhil, pengen makan malem seafood yang mangkal di depan BCA Benhil. Menu yang enak dipesan kalo buat makan rame-rame ya kepiting, dan saya pilih kepiting saos padang, asem-manis-pedas, pokoknya mak nyussss…..ajiiieeeeeeeeebbb…. (halah campur-campur, hahahaha…). Ga terasa ternyata selesai makan udah jam sebelasan. Lalu saja ajak bapak dan adik saya untuk menyusuri trotoar sepanjang jalan Sudirman, di depan gedung Arthaloka barulah kami melanjutkan naik taksi untuk pulang. Tepat keluar dari underpass Senen, taksi yang kami kendarai dihentikan oleh polisi yang sedang melakukan razia. Saya pikir pak polisi bakal nanyain surat-surat kelengkapan mobil kepada supir taksi, eh ternyata polisi itu nanyain KTP penumpang, byuuhh….untung bawa KTP. Sampe kost udah lewat tengah malam, cuapekkkk…. cerita hari jum’at dicukupkan sekian, karena kelanjutannya ya tidur.

Sabtu pagi, jam 9-an naik busway ke arah Ancol, yup, kali ini pengen ngajak adek dan bapak ke Dufan dan sekitarnya. Bgitu masuk Dufan yang notabene baru aja buka, ternyata di setiap wahananya udah banyak yang antri. Hanya beberapa yang sepi pengantri, salah satunya Halilintar. Nah daripada ga dapet naik apa-apa, maka saya ajaklah bapak dan adek saya untuk mencoba ngerasain naik Halilintar. Hehehehe….bisa dibayangkan reaksinya setelah ngerasain Halilintar itu, bapak saya jadi ga mau nyoba wahana lainnya lagi, pusing katanya. Tapi saya masih keukeuh ngajak bapak saya untuk ikut berbasah-basah naik arung jeram. Masih blom puas liat reaksi adek, maka saya mengajaknya naik wahana yang lainnya, saya tawari naik Kicir-Kicir, Kora-Kora, Ontang-Anting, tentu Tornado juga, tapi dia menolaknya, akhirnya saya ajak naik Niagara-gara, eh dia mau. Pas udah naik perahunya, masih enak, perahu berjalan dengan cukup lambat, tapi begitu sampai di puncak dan meluncur, adik saya teriak histeris, hahahahaha….dan akhirnya basah-basahan :-D Dengan kepala yang masih cukup pening, kami bertiga masuk Rumah Miring, jadi makin sempoyongan aja. Setelah itu barulah betul-betul tidak mau naik wahana apapun lagi. Katanya Dufan itu tempat liburan yang aneh, liburan bayar mahal-mahal buat nyari penyakit. Hari makin siang, semua wahana makin padat antriannya, maka kami memilih untuk keluar. Jalan-jalan sebentar di tepi pantai Ancol, lalu ke Sea World liat-liat ikan :-) Abis muter-muter di Ancol, ternyata hari masih sore, tanggung kalo pulang, maka saya mengajak mereka untuk melanjutkan jalan-jalan ke Kota Tua, melihat-lihat bangunan tua tentunya. Ada beberapa kelompok orang yang sepertinya sedang membuat foto-foto prewedding disana. Mau masuk-masuk ke museumnya ternyata udah pada tutup, batal deh. Masih belum puas jalan, naik busway dari halte Stasiun Kota sampai ke ujung, Blok M. Muter-muter nyari beberapa keperluan adek, makan malam, lalu pulang, wew, ternyata perjalanan hari sabtu itu bisa dikatakan dari ujung ke ujung, dari Ancol ke Blok M.

Hari minggu, semua bangun kesiangan lantaran kecapekan abis jalan seharian. Keluar udah hampir tengah hari ke Rawamangun cari tiket balik ke Denpasar. Lalu makan siang di Arion, abis itu nyambung lagi ke Stasiun Gambir. Rencananya sih cuma mau jalan-jalan di seputaran Monas, tapi saya pikir lebih baik saya mengajak adek saya ke Bogor, biar pengalaman naek KRL, soalnya di Bali ga ada kereta api, hehehehe… :-) Setiba di Bogor, jalan sebentar di sekitar Taman Topi dan pasar di sebelah stasiun, beli asinan, balik lagi naek KRL ke Gambir. Dan sampe Gambir udah sore, mau pulang nanggung, lebih baik duduk-duduk dulu disana sambil nunggu pertunjukan air mancur yang baru dimulai jam 19.00 wib. Mendekati waktu pertunjukan, kami sudah mulai duduk di tepi kolam air mancur. Dan begitu pertunjukannya dimulai, wah ternyata adek saya terkagum-kagum *doenk* Abis nonton air mancur, jalan kaki ke arah Kebon Sirih, baru sampe di depan gedung Reksadana eh sendal bapak putus, akhirnya bapak nyeker ke tempat makan nasi goreng kambing yang cukup terkenal itu. Perut kenyang perjalanan pun kami lanjutkan, nyetop bajaj untuk nganter kami bertiga pulang.

Bener-bener wiken yang melelahkan bukan? Memakan korban berupa sepatu adek saya yang solnya udah mulai menganga, juga sendal bapak saya yang terpaksa harus dibuang begitu saja karena putus. Entah berapa kilometer perjalanan yang telah kami tempuh itu, yang jelas telapak kaki saya sekarang jadi keras, kapalan sepertinya, dan tentu ada sedikit bagian pecah-pecahnya. Dan saya bisa dibilang kelelahan, sekarang aja badan terasa meriang. Moga aja bapak sama adek tidak apa-apa, palagi mereka masih nambah perjalanan panjang ke Denpasar dengan bus pula.

Semoga liburan ke Jakarta-nya memuaskan dan tentunya mengesankan :-)

Written by clingakclinguk

July 9th, 2008 at 5:08 pm