Seragam dan segala macam atribut instansi dan fasilitas yang anda pakai itu memang dapat membaut anda tampak lebih gagah dan berwibawa
, tapi di lain sisi itu juga seharusnya dapat membuat anda untuk lebih punya rasa malu. Kenapa harus lebih malu ? Karena pada seragam dan segala macam atributnya itu juga melekat nama baik instansi atau korps kesatuan anda. Jadi kalau anda melanggar peraturan lalu lintas apalagi sampai bertindak ugal-ugalan di jalanan ya meskipun mungkin wajah anda dan nama anda tidak kelihatan, tetapi kan orang yang melihat itu bisa mengenali anda sebagai salah seorang dari instansi mana. Malu donk seragamnya keren tapi kelakuannya sama sekali ndak keren
. Malu donk kalau sampai ada yang tertangkap basah oleh kamera pengguna jalanan yang lain terus foto itu diunggah sehingga foto anda banyak dilihat oleh pengguna internet seperti ini, ya kan ?
Archive for the ‘jalanan’ tag
Malu dong ya ?
Selamat datang, hujan
Oh, sungguh sulit untuk menerima pernyataan cinta kepada hujan, sesuatu yang saya pikir tak mungkin terjadi di sini. Saya pikir belumlah dia pernah merasakan hujan di kota ini, terjebak di padatnya jalanan ibukota. Dimana hujan lebih bermakna layaknya sebuah malapetaka daripada sebuah berkah.
Tak ada wangi bau tanah yang tersiram hujan, tapi hanya debu yang mengganggu pernapasan. Bukan riak-riak untuk bercipratan, tapi air bah berwarna coklat yang menjijikkan.
Masihkah kau bisa menikmati hujan di ibukota ini di kala terjebak di jalanan? Basah, dingin yang sedikit demi sedikit menyusup melalui pori-pori kulit kita menusuk tulang, diperparah perut yang mulai melapar.Aku benci terjebak di sini.

Mungkin hanya anak kecil yang menyewakan payung ini yang gembira menyambut hujan, Tuhan tak hanya menurunkan hujan, tapi juga rejeki untuknya, berlarian menghampiri kerumunan, mengembangkan payung pelanginya untuk tubuh-tubuh yang takut kebasahan. Selamat ya, anak kecil, ini waktunya berpesta, bermain hujan.
Dan tentunya, selamat datang hujan. Yah, bagaimanapun, kau tetap selalu bisa menyisipkan romantisme dalam tiap tetesanmu, meski aku tak terlalu menyukai kedatanganmu di kota ini.
Selamat datang, hujan
kejamnya ibukota
Pemandangan anak jalanan di perempatan lampu merah mungkin sudah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah di ibukota negeri ini. Dan mereka pun menjadikan jalanan sebagai arena bermain sekaligus untuk mencoba mengetuk rasa iba para pengguna jalan. Tanpa peduli itu siang, ataupun malam.
Semalam, dalam perjalanan pulang, di sebuah perempatan lampu merah saya melihat ada anak jalanan, seorang laki-laki kecil yang duduk di tepi trotoar, sendirian, beberapa kali dia mengusap wajahnya, tampaknya dia sedang menangis. Saya tak tahu pasti kenapa dia menangis, mungkin karena dimarahi orangtuanya, mungkin juga telah dijahati oleh sesama anak jalanan.

saya hanya bisa memandanginya dari kejauhan, dan akhirnya saya pun harus meneruskan perjalanan saya ketika lampu berubah berwarna hijau. Ibukota ini memang kejam, dia telah membuat seorang jagoan menangis sendirian di jalanan. Tanpa seorang pun menghampirinya, termasuk saya, maafkan.
gambar diambil dari sini



Turut berbagi bersama beberapa warga 
