clingakclinguk™

melihat, mendengar, dan berbagi

Archive for the ‘Jawa’ tag

oleh-oleh lebaran

5 comments

Saya ingin berbagi oleh-oleh dari kampung, oleh-olehnya tentu saja bukanlah makanan khas ataupun cinderamata, melainkan sebuah cerita. 

Sudah lama saya tidak mudik ke tanah Jawa dan merasakan langsung kekentalan tradisinya. Bahkan mungkin baru mudik kali inilah saya betul-betul disadarkan bahwa saya juga tidak bisa lepas dari tradisi Jawa. Sebetulnya saya tidaklah tahu betul yang mana dikatakan sebagai tradisi Jawa dan bukan, karena saya tidak dibesarkan disana, tapi karena kemarin saya mengalaminya di Jawa maka saya menyebutnya sebagai tradisi Jawa. 

Pertama kali membayarkan zakat sendiri dengan cara yang menurut saya terbilang unik. Di kampung, zakat dalam wujud beras lebih mendominasi dibandingkan dalam bentuk uang. Di saat kita membayarkan zakat, maka amil zakat akan mengambil sedikit beras zakat kita, lalu membacakan do’a dalam bahasa Arab dan Jawa halus sambil menjabat tangan kita yang intinya do’a agar zakat tersebut bisa membersihkan diri kita, dan kita diminta untuk melafalkannya juga, mirip ijab kabul pernikahan.

Di saat malam takbiran, kebetulan di kampung mati lampu. Kampung yang jika tidak mati lampu saja begitu sepi, ini ditambahkan dengan gelap gulita. Suara takbir seperti enggan untuk diteriakkan dengan lantang. Hanya beberapa orang saya yang berdiam diri di langgar mengikuti takbiran. Ternyata takbiran di dalam kegelapan memberikan nuansa yang tersendiri, begitu terasa, bukan hanya sekedar teriakan kalimat takbir.

Keesokan paginya mengikuti sholat Id di sebuah masjid yang tidak jauh dari rumah nenek. Peserta sholat tidak sebanyak di kota, masjid dengan ukuran halaman yang tergolong tidak besar itu masih mampu menampungnya. Semua peserta begitu tertib mengikuti rangkaian acara hingga khotib menyelesaikan khotbahnya yang menggunakan bahasa Jawa halus (lagi-lagi saya tidak begitu mengerti isi dari khotbah itu).

Selesai sholat Id, langsung berkeliling kampung, mengunjungi sanak saudara. Ternyata hampir seisi kampung itu punya hubungan saudara dengan keluarga saya, entah itu dari kakek buyutnya, dari kakek-neneknya, dari besanan, dan lain sebagainya. Tidak cukup hanya sehari untuk bersilaturahmi dengan mereka semua. Itu yang membuat hari-hari saya terasa begitu sibuk. Kalau tidak menerima tamu-tamu, maka saya bersama keluargalah yang berkunjung ke rumah mereka. Saling kunjung mengunjungi ini dilakukan berdasarkan tingkatan usia. Semakin muda usia, maka bersiap-siaplah untuk berkeliling mengunjungi saudara-saudara yang lebih tua. Dan ukuran tua-muda itu juga tidaklah didasarkan pada usia kita saya, tapi juga pada usia orangtua, atau bahkan kakek-nenek kita. Disinilah saya seringkali merasa kikuk. Suatu waktu bisa saja saya diharuskan untuk menyapa seseorang yang usianya lebih muda dari saya dengan embel-embel “mas” atau “mbak” atau bahkan “pakdhe”, “budhe”, “paklik”,”bulik” di depan namanya hanya lantaran orang itu adalah anak atau cucu dari kakaknya nenek/kakek saya. Bisa juga sebaliknya, saya dipanggil dengan embel-embel “mas” di depan nama saya oleh seorang laki-laki yang usianya cukup jauh lebih tua daripada saya lantaran orang itu adalah anak atau menantu dari adik bapak saya. Semoga kalian mengerti saat membaca penjelasan saya yang cukup njelimet ini, tapi itulah Jawa.

Di setiap acara silaturahmi itu yang dibicarakan sebagian besar adalah tentang cerita-cerita masa lalu, orang-orang tua itu saling bercerita tentang bagaimana kita di waktu kecil dulu, juga tentang kenakalan-kenakalan orang tua kita di masa kecil mereka. Dari situlah saya tahu dari mana saya mendapatkan sifat keras kepala. 

Buat orang-orang di kampung, lebaran kemaren itu bukanlah puncak kemeriahan dari lebaran. Puncaknya baru besok, hari ke-7 di bulan Syawal, disinilah pesta ketupat diadakan, di setiap membuat ketupat dan opor ayam. Sehingga seringkali hari ke-7 di bulan Syawal itu disebut dengan hari raya kupatan atau ada juga yang menyebutnya sebagai hari raya Syawalan (bukan swalayan). Tidak hanya dimeriahkan dengan ketupat, tapi juga kegiatan pergi ke laut beramai-ramai. setahu saya tidak ada ritual khusus yang dilakukan oleh mereka di laut sana, hanya pergi kesana dengan segala macam cara, naik truk, naik motor atau bahkan berjalan kaki naik turun bukit berkilo-kilo meter jauhnya, kemudian makan lontong bersama, mandi di laut bagi yang berani dengan derasnya ombak pantai selatan, kemudian pulang. Meski tidak ada aktivitas ritual khusus yang diadakan disana, tapi acara pergi ke laut dan makan ketupat disana di hari raya Kupatan itu sudah menjadi ritual tersendiri. Tidak ada yang bosan untuk pergi kesana setiap tahun, selalu saja seperti ada magnet yang menarik ribuan orang untuk datang beramai-ramai ke laut.

Hiruk-pikuk lebaran pun usai, kembali ke kehidupan normal. Aktivitas dimulai sejak Subuh. Usai sholat, maka setiap orang di rumah mbah akan mengambil perannya masing-masing. Mbah akan sibuk di dapur, suami adik sepupu saya sibuk mengeluarkan sapi dan embeng, si anak sapi dari kandang ke halaman belakang, membersihkan kandang dari kotoran sapi lalu menyiapkan peralatan tempurnya untuk menaiki beberapa puluh pohon kelapa untuk mengambil air nira sebagai bahan untuk membuat gula merah. Dan adik sepupu saya sibuk menyapu dan merapikan rumah yang kemudian dilanjutkan menyapu halaman yang cukup luas,lalu diteruskan untuk memasak air nira hingga menadi gula merah. Saya agak sulit untuk ikut berbaur menyibukkan diri, karena saya tidak tahu harus melakukan apa. Beda dengan bapak-ibu saya yang begitu datang, mereka juga langsung ikut terbawa dalam kesibukan keseharian itu. Siklus kesibukan seperti ini terjadi 2 kali dalam sehari, padi dan sore hari. Dan begitu jam 8, mereka semua akan bersiap untuk beristirahat. Iya, di kampung sulit untuk tetap bertahan terjaga hingga tengah malam, baru jam 8 malam saja, rasa kantuk sudah bergelayut di kelopak mata. 

Berlibur lebaran selama seminggu di kampung betul-betul membuat saya seperti sedang menyelami dan merasakan langsung cerita di dalam Para Priyayi-Umar Kayam maupun Canting-nya Arswendo Atmowiloto. Ada rasa senang karena bisa sedikit banyak bisa merasakan langsung tradisi Jawa, menjadi bagian di dalamnya, tidak hanya mengetahui dari kedua novel itu, tapi di sisi lain ada rasa kikuk, riweh dengan segala tetek-bengek tradisi itu. 

Buat semuanya, selamat bekerja kembali ya

Written by clingakclinguk

October 6th, 2008 at 9:36 am

Mas…

10 comments

Semalem pas lagi leyeh-leyeh tiba-tiba hape jadul saya bunyi : tutut…tutut… (tanda ada SMS masuk) Dengan sedikit mengernyitkan dahi saya membaca SMS itu.

+6285885268***

Mas, lebaran sios mantuk mboten?*

Langsung seketika itu juga sayup-sayup saya seperti mendengarkan iringan musik gamelan Jawa. Neng…nong…neng…gong…

Kenapa saya mengernyitkan dahi saya ? setidaknya ada 2 alasan, pertama,  karena saya tidak tahu siapa pengirim sms ini. Mikir-mikir apa kira-kira ini sms dari saudara di Jawa sana, tapi ya siapa? Lagian sepertinya saudara-saudara saya selama ini tidak ada yang ngomongnya sehalus itu. Yang kedua karena bahasa yang dipakai itu. Iya, saya memang berdarah Jawa, tapi pengetahuan bahasa Jawa saya sangatlah dangkal. Dari kalimat di sms itu kosakata yang saya betul-betul tahu artinya ya cuma :”Mas”,”lebaran”, dan “mboten”. Nebak-nebak, kira-kira maksud kalimat ini apa yah? Kok pake mantuk-mantuk (manggut-manggut) segala. Apalagi sios itu, apa pula itu artinya.

Daripada salah mengartikan yang lebih baik ditanyakan kepada pengirimnya toh? Dan saya pun melakukannya. Saya balas SMS itu seperti ini.

“Yah, bahasanya jgn terlalu alus, saya ga ngerti. Ngomong2 ini nomer siapa ya?”

Sambil masih tetap berusaha memecahkan arti kalimat itu. Tidak lama kemudian, gayung bersambut. SMS saya dibalas. 

+6285885268***

Maaf ya, ini no.mas bambang kan?

*gubraks*

Saya langsung shock saat membaca SMS itu. Bambang? Bambang Gentolet apa? Lagi-lagi untuk kesekian kalinya saya dapet SMS nyasar. 

 

Pesan khusus buat Mas Bambang : 

Mas, mohon segera hubungi nomor di atas. Kalau pengen tahu angka yang disamarkan, silakan tinggalkan komentar di bawah ya. Kasian tuh, jangan sampai nasib si pengirim SMS nanti kayak istri Bang Toyib yang udah 3 kali lebaran, ga pernah dikunjungi sama Bang Toyib.

 

 

* Mas, lebaran sios mantuk mboten? = Mas, lebaran jadi pulang tidak?

Written by clingakclinguk

September 8th, 2008 at 3:55 pm

Posted in catatan hari ini

Tagged with , , ,