clingakclinguk™

melihat, mendengar, dan berbagi

Archive for the ‘lebaran’ tag

Kenapa harus mudik ?

7 comments

mudik sekampung

Pastinya sekarang sudah pada mulai sibuk berkemas-kemas, pilah-pilih baju mana yang mau dibawa dan dipakai untuk berlebaran di kampung nanti. Sibuk mengatur posisi barang bawaan di dalam ransel supaya bisa muat banyak. Atau malah sudah dalam perjalanan mudik ke kampung halaman.

Saya ndak tau sejak kapan budaya mudik ini dimulai, apalagi siapa pelopornya.

Saya ndak begitu ngerti kenapa orang-orang pada rela tiap tahun “dikerjain” sama PT KAI. Rela berbaris dalam antrian yang amat sangat panjang, bahkan tak jarang harus bermalam di emperan stasiun Read the rest of this entry »

Written by clingakclinguk

September 13th, 2009 at 3:39 pm

Posted in catatan hari ini

Tagged with ,

oleh-oleh lebaran

5 comments

Saya ingin berbagi oleh-oleh dari kampung, oleh-olehnya tentu saja bukanlah makanan khas ataupun cinderamata, melainkan sebuah cerita. 

Sudah lama saya tidak mudik ke tanah Jawa dan merasakan langsung kekentalan tradisinya. Bahkan mungkin baru mudik kali inilah saya betul-betul disadarkan bahwa saya juga tidak bisa lepas dari tradisi Jawa. Sebetulnya saya tidaklah tahu betul yang mana dikatakan sebagai tradisi Jawa dan bukan, karena saya tidak dibesarkan disana, tapi karena kemarin saya mengalaminya di Jawa maka saya menyebutnya sebagai tradisi Jawa. 

Pertama kali membayarkan zakat sendiri dengan cara yang menurut saya terbilang unik. Di kampung, zakat dalam wujud beras lebih mendominasi dibandingkan dalam bentuk uang. Di saat kita membayarkan zakat, maka amil zakat akan mengambil sedikit beras zakat kita, lalu membacakan do’a dalam bahasa Arab dan Jawa halus sambil menjabat tangan kita yang intinya do’a agar zakat tersebut bisa membersihkan diri kita, dan kita diminta untuk melafalkannya juga, mirip ijab kabul pernikahan.

Di saat malam takbiran, kebetulan di kampung mati lampu. Kampung yang jika tidak mati lampu saja begitu sepi, ini ditambahkan dengan gelap gulita. Suara takbir seperti enggan untuk diteriakkan dengan lantang. Hanya beberapa orang saya yang berdiam diri di langgar mengikuti takbiran. Ternyata takbiran di dalam kegelapan memberikan nuansa yang tersendiri, begitu terasa, bukan hanya sekedar teriakan kalimat takbir.

Keesokan paginya mengikuti sholat Id di sebuah masjid yang tidak jauh dari rumah nenek. Peserta sholat tidak sebanyak di kota, masjid dengan ukuran halaman yang tergolong tidak besar itu masih mampu menampungnya. Semua peserta begitu tertib mengikuti rangkaian acara hingga khotib menyelesaikan khotbahnya yang menggunakan bahasa Jawa halus (lagi-lagi saya tidak begitu mengerti isi dari khotbah itu).

Selesai sholat Id, langsung berkeliling kampung, mengunjungi sanak saudara. Ternyata hampir seisi kampung itu punya hubungan saudara dengan keluarga saya, entah itu dari kakek buyutnya, dari kakek-neneknya, dari besanan, dan lain sebagainya. Tidak cukup hanya sehari untuk bersilaturahmi dengan mereka semua. Itu yang membuat hari-hari saya terasa begitu sibuk. Kalau tidak menerima tamu-tamu, maka saya bersama keluargalah yang berkunjung ke rumah mereka. Saling kunjung mengunjungi ini dilakukan berdasarkan tingkatan usia. Semakin muda usia, maka bersiap-siaplah untuk berkeliling mengunjungi saudara-saudara yang lebih tua. Dan ukuran tua-muda itu juga tidaklah didasarkan pada usia kita saya, tapi juga pada usia orangtua, atau bahkan kakek-nenek kita. Disinilah saya seringkali merasa kikuk. Suatu waktu bisa saja saya diharuskan untuk menyapa seseorang yang usianya lebih muda dari saya dengan embel-embel “mas” atau “mbak” atau bahkan “pakdhe”, “budhe”, “paklik”,”bulik” di depan namanya hanya lantaran orang itu adalah anak atau cucu dari kakaknya nenek/kakek saya. Bisa juga sebaliknya, saya dipanggil dengan embel-embel “mas” di depan nama saya oleh seorang laki-laki yang usianya cukup jauh lebih tua daripada saya lantaran orang itu adalah anak atau menantu dari adik bapak saya. Semoga kalian mengerti saat membaca penjelasan saya yang cukup njelimet ini, tapi itulah Jawa.

Di setiap acara silaturahmi itu yang dibicarakan sebagian besar adalah tentang cerita-cerita masa lalu, orang-orang tua itu saling bercerita tentang bagaimana kita di waktu kecil dulu, juga tentang kenakalan-kenakalan orang tua kita di masa kecil mereka. Dari situlah saya tahu dari mana saya mendapatkan sifat keras kepala. 

Buat orang-orang di kampung, lebaran kemaren itu bukanlah puncak kemeriahan dari lebaran. Puncaknya baru besok, hari ke-7 di bulan Syawal, disinilah pesta ketupat diadakan, di setiap membuat ketupat dan opor ayam. Sehingga seringkali hari ke-7 di bulan Syawal itu disebut dengan hari raya kupatan atau ada juga yang menyebutnya sebagai hari raya Syawalan (bukan swalayan). Tidak hanya dimeriahkan dengan ketupat, tapi juga kegiatan pergi ke laut beramai-ramai. setahu saya tidak ada ritual khusus yang dilakukan oleh mereka di laut sana, hanya pergi kesana dengan segala macam cara, naik truk, naik motor atau bahkan berjalan kaki naik turun bukit berkilo-kilo meter jauhnya, kemudian makan lontong bersama, mandi di laut bagi yang berani dengan derasnya ombak pantai selatan, kemudian pulang. Meski tidak ada aktivitas ritual khusus yang diadakan disana, tapi acara pergi ke laut dan makan ketupat disana di hari raya Kupatan itu sudah menjadi ritual tersendiri. Tidak ada yang bosan untuk pergi kesana setiap tahun, selalu saja seperti ada magnet yang menarik ribuan orang untuk datang beramai-ramai ke laut.

Hiruk-pikuk lebaran pun usai, kembali ke kehidupan normal. Aktivitas dimulai sejak Subuh. Usai sholat, maka setiap orang di rumah mbah akan mengambil perannya masing-masing. Mbah akan sibuk di dapur, suami adik sepupu saya sibuk mengeluarkan sapi dan embeng, si anak sapi dari kandang ke halaman belakang, membersihkan kandang dari kotoran sapi lalu menyiapkan peralatan tempurnya untuk menaiki beberapa puluh pohon kelapa untuk mengambil air nira sebagai bahan untuk membuat gula merah. Dan adik sepupu saya sibuk menyapu dan merapikan rumah yang kemudian dilanjutkan menyapu halaman yang cukup luas,lalu diteruskan untuk memasak air nira hingga menadi gula merah. Saya agak sulit untuk ikut berbaur menyibukkan diri, karena saya tidak tahu harus melakukan apa. Beda dengan bapak-ibu saya yang begitu datang, mereka juga langsung ikut terbawa dalam kesibukan keseharian itu. Siklus kesibukan seperti ini terjadi 2 kali dalam sehari, padi dan sore hari. Dan begitu jam 8, mereka semua akan bersiap untuk beristirahat. Iya, di kampung sulit untuk tetap bertahan terjaga hingga tengah malam, baru jam 8 malam saja, rasa kantuk sudah bergelayut di kelopak mata. 

Berlibur lebaran selama seminggu di kampung betul-betul membuat saya seperti sedang menyelami dan merasakan langsung cerita di dalam Para Priyayi-Umar Kayam maupun Canting-nya Arswendo Atmowiloto. Ada rasa senang karena bisa sedikit banyak bisa merasakan langsung tradisi Jawa, menjadi bagian di dalamnya, tidak hanya mengetahui dari kedua novel itu, tapi di sisi lain ada rasa kikuk, riweh dengan segala tetek-bengek tradisi itu. 

Buat semuanya, selamat bekerja kembali ya

Written by clingakclinguk

October 6th, 2008 at 9:36 am

Selamat…

2 comments

Postingan ini saya ketik saat saya masih di kantor (kamis, 25 September 2008). Sengaja mempersiapkan ini mengingat sulitnya menemukan warnet di tanah kelahiran saya. Saat ini baru saja selesai mengikuti sholat Ied (insyaallah).

Saya ingin mengucapkan  :

SELAMAT IDUL FITRI 1429 H

mohon maaf lahir dan batin

 

Selamat berkumpul dengan sanak saudara di kampung halaman bagi yang menjalankan ritual mudik seperti halnya saya ini. Dan semoga nanti balik dari mudik membawa semangat yang baru. Saat balik jangan sampai kelupaan KTP-nya supaya tidak terjaring operasi yustisi, hehehehe…. Buat yang ga ikut-ikutan mudik, selamat karena anda tidak perlu repot-repot mempesiapkan diri untuk beli tiket jauh-jauh hari, tidak perlu bersusah payah untuk bisa berkumpul sanak-saudara, syukurilah itu. Buat yang kebetulan tidak bisa mudik, yang sabar aja, yang penting saling mendoakan dan semuanya dalam keadaan sehat walafiat tanpa kekurangan suatu apapun. 

Maaf ucapannya hanya melalui media seperti ini, takutnya jaringan telpon nanti pada sibuk semua, ah padahal masih pengen meneruskan acara kirim-kiriman kartu ucapan lebaran seperti tahun lalu. Seru, kartu-kartu itu masih ada sampai sekarang, dan tentu saja bikin senyum-senyum sendiri kalau membaca tulisan yang ada di kartu itu.

Written by clingakclinguk

October 1st, 2008 at 8:00 am